Argo Manor

Jadi itu nama rumah ini: Argo Manor. Aneh sekali, pikir Nyonya Covenant. “Apa kau yakin kita tidak salah?” Nyonya Covenant bertanya ragu-ragu. Tangannya mengusap-usap dinding Argo Manor seakan-akan ingin meyakinkan dirinya bahwa rumah itu nyata dan semua ini bukanlah sekedar mimpi indah belaka.

Bagian dalam Argo Manor bahkan lebih menakjubkan daripada bagian luarnya. Rumah itu tua, namun memiliki… karakter. Ya, itulah kata yang tepat, pikir Nyonya Covenant. Karakter, seolah-olah rumah itu merupakan makhluk hidup dan bukan sekadar rumah dari batu dan kayu.

Perabotannya merupakan paduan aneh dari berbagai gaya, yang tampaknya berasal dari seluruh penjuru dunia: sebuah vas Mesir, sebuah meja Venesia, permadani-permadani Persia, sampai sebuah lukisan dari Hudson River School. Namun, entah bagaimana semuanya terlihat serasi. Setiap benda terlihat pantas berada di rumah itu.

 

 


Jason dan Julia

Jason mendongakkan kepala ke arah lukisan-lukisan yang tergantung di dinding yang mengapit tangga yang menuju ke lantai dua dan ke ruang menara. Tangga itu berakhir di ruang menara, di depan sebuah pintu yang dilengkapi cermin. Jason tak bisa mengingat apa pun, tapi ia tahu tidak mungkin tetap tinggal di situ dan mencoba meyakinkan Julia bahwa ada hantu di lantai dua, Julia takkan mau percaya.

Cahaya matahari menimbulkan bayang-bayang di halaman, menembus pepohonan tinggi, dan membelah awan. Di kejauhan, di batas cakrawala  sebuah garis putih tipis seolah memisahkan langit dengan laut.

“Pernahkah kau bertanya-tanya mengapa langit memutih sebelum menyentuh laut?” tanya Jason kepada saudarinya. “Tidak,” jawab Julia. “Tapi aku bertanya-tanya kapan kau mau belajar menggunakan sisir,” lanjut Julia sambil menjangkau kepala Jason dan mencoba merapikan beberapa helai rambutnya yang berantakan. “Payah,” desis Julia Covenant tanpa maksud jahat.

 

 


Rick Banner

Semangat Rick bertambah saat memikirkan hal itu. Selama bertahun-tahun ia memimpikan bisa mengunjungi rumah tersebut dan menjejakkan kakinya sekali saja di dalam dinding-dindingnya yang bertingkat. Ia menghabiskan waktu berjam-jam mengamati rumah itu dengan teropong medan dari jendela rumahnya atau dari pantai saat pasang surut. Rumah itu bagaikan sebuah tempat ajaib. Sebuah magnet yang menarik Rick mendekat. Dan sekarang, akhirnya, tanpa diduga, ia akan berada di sana. Pintu-pintu Argo Manor akan terbuka untuknya.

Si kembar satu tahun lebih muda dari Rick. Mereka tidak tahu apa-apa mengenai Kilmore Cove, namun mereka baru saja pindah ke rumah impian Rick. Dan Rick akan membantu si kembar mengenal Kilmore Cove yang masih baru dan asing bagi mereka. Kedatangan mereka menawarkan kesempatan emas bagi Rick, dan ia sudah siap menyambarnya.

Rick menyeringai saat melihat gerbang hitam Argo Manor di tikungan. Ia mengangkat tubuhnya dari sadel dan memacu sepedanya kencang-kencang.

 

 


Buku Harian

 


Kode

Ketika kegelapan ngalau terasa ‘kan mengalahkan, Cahaya-tanah ini kau gunakan dapat....bagi armada ‘tuk menerangi jalan yang membawamu ke mana pun kau minat.

Perpustakaan Tuan Moore
Julia kembali membaca keras-keras pesan yang terdapat dalam kotak. Ia, menurut kata-katanya sendiri, ‘terobsesi dengan pesan itu’: ‘Ketika kegelapan ngalau terasa ‘kan mengalahkan... bagi armada ‘tuk menerangi jalan.’ Ia berhenti dan menatap Jason dan Rick. “Tunggu sebentar. Itu masuk akal! Benar-benar masuk akal!” pekiknya. “Pesan itu membicarakan tentang sebuah armada kapal. Dan sebuah armada kapal hanya dapat ditemukan di laut. Siapa pun yang menulis pesan ini—“

“Ulysses Moore,” potong Jason.

“Pesan itu ditulis oleh Ulysses Moore,” tandas Jason. “Siapa lagi yang melakukannya? Pesan itu tertulis dalam bahasa Inggris, hanya saja penulisnya menggunakan abjad dari Cakram Phaistos sehingga pesannya berubah menjadi kode.”

 

 


Kapal

Rick berjalan mendekati haluan, sebuah lengkungan megah yang terbuat dari kayu berukir. “Kapal ini sempurna, bukan begitu?” Ia berucap seraya mengelus-elus kayu tersebut. “Maksudku, jika aku harus menggambar sebuah kapal sempurna, aku akan menggambar kapal yang sama persis seperti kapal ini. Dengan bentuk yang sama, tiang utama yang sama, dayung-dayung, seperti kapal-kapal kuno.”

“Apakah kapal ini memiliki nama?” Jason bertanya.

Pada lunas kapal terukir huruf-huruf berikut: METIΣ
Metie,” Rick membaca tulisan itu.
Metie,” Rick mengulangi. “Kapal ini bernama Metie.”
“Nama yang aneh,” Julia berkomentar.

“Aku tidak yakin bagaimana mengucapkannya dengan benar,” Rick berkata. “Huruf terakhir itu sepertinya bukan e. Aku ragu kalau Metie merupakan kata bahasa Inggris.”

 

 


Nestor

“Ketiga anak itu sudah memasuki pintu,” ucap Nestor pelan.

“Bagus. Tepat seperti yang kuharapkan,” Laki-laki yang tersembunyi di balik bayang-bayang itu menjawab.

Laki-laki tua itu memandang berkeliling, tak yakin harus menjawab apa, dan mulai beranjak pergi. Ia melawan keinginan untuk melesat menuruni tangga. Ia membalikkan badannya lagi untuk berhadapan dengan sosok yang dikenalnya dengan baik itu. “Anak-anak itu bijaksana,” Ia berkata.

“Sangat bijaksana, dan sangat beruntung. Tapi yang paling penting, mereka sangat baik hati. Hati yang murni, keberanian – dan yang satu itu memiliki kelebihan. Dia berbeda. Mereka berhak memperoleh kesempatan untuk mencoba.”

“Mereka anak-anak yang cemerlang,” sanggah Nestor. “Dan ada sesuatu yang istimewa mengenai anak satu itu.”

 


 

Catatan harian sang Kapten

17 September tahun terakhir

Barangkali inilah pelayaran terakhir Metis. Kini, setelah mengabulkan keinginan-keinginan kami dan membawa kami ke mana pun kami ingin pergi, tiada lagi alasan baginya untuk berlayar. Tangan-tangan yang mengendalikan kemudinya sudah tak sanggup lagi melakukannya.

Tangan-tanganku sudah terlalu tua untuk melaksanakan tugas itu. Tangan-tangan milik orang  yang pernah menemaniku berlayar telah lama lenyap. Waktu, sang penghancur daging dan darah yang tak berbelas kasih, telah mengakhiri petualangan kami.

Sekarang, karena sauh telah dibuang ke dasar laut rahasia ini, yang tersisa padaku hanyalah kenang-kenangan akan apa yang telah kami lihat dan alami, apa yang telah kami lalui dan pelajari. Tersisa pula padaku mimpi-mimpi akan pelabuhan-pelabuhan yang belum pernah kulihat. Aku merasa tua sekarang. Dan tua jualah kapal ini

 

 


Pertualangan dimulai

Jason melangkah ke depan. “Tidak bisakah kau memahaminya, Julia?” Ia berkata penuh semangat. “Ulysses Moore ingin kita datang ke sini. Ia meninggalkan petunjuk-petunjuk yang kita ikuti. Ia memandu kita ke tempat ini... ke zaman ini,” Jason berkata.

“Sekarang kita harus memutuskan,” Jason berkata tegas. “Apakah kita akan meneruskan petualangan kita, atau kita mencoba kembali ke Argo Manor?”

“Apakah kau yakin bisa semudah itu?” Rick menyahut. Ia masih merasa sulit untuk mempercayai semua yang terjadi.

“Teman-teman,” Ia berkata. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Julia dan Rick. “Dengarkan aku. Kita ada di Mesir! Kita tidak bisa kembali sekarang,” Ia mendesak. “Takdir kita ada di sini.” Ia membuat gerakan mengayun dengan tangannya. “Takdir kita menanti... di luar sana!”

Petualangan baru saja dimulai.

 

 

 

 

 

 

 

* * *


Sumber:
Menampilkan 1 hingga 1 (dari 1 item)

Argo Manor bertutur:

Aku berada di Kilmore Cove, agak terpencil dari rumah lainnya. Mendiang pemilikku, Ulysses Moore, mengizinkan Nestor pelayannya menyewakanku pada orang lain. Dengan syarat keluarga beranggotakan minimal dua orang anak.

Tuan dan Nyonya Covenant terpesona pada penampilan fisikku, menganggap aku merupakan tempat yang cocok untuk anak kembar mereka: Julia dan Jason. Julia yang menyukai keriuhan kota besar, toh tak dapat menampik kemenarikanku walau ia kerap tak sependapat dengan Jason yang dianggapnya berkhayal.

Jason bocah yang peka, berminat pada hantu dan sejenisnya. Ia menduga ada hal serupa di dalamku. Namun seperti dugaan Nestor, anak-anak akan bersenang-senang. Anak-anak akan berpetualang. Tak menghiraukan cerita misterius tentang tuanku yang tak pernah menginjak tanah di luar selama empat puluh tahun. Bahkan mereka terpikat oleh kisah itu. Oleh kematian istrinya yang tiba-tiba. Oleh suasana mencekam di sini. Oleh pintu yang selalu mengundang untuk dibuka, dan pasti akan ditemukan bagaimana pun rapatnya.

Bagaimana kau tak akan terpesona pada kisahku, Sobat Petualang? Aku dituliskan dalam sebuah buku yang kokoh, dengan huruf tak menyiksa mata, nyaman dilalap paragraf demi paragraf. Memang ada kekurangan di sana-sini, misalnya terjemahan 'teman-teman' yang lebih cocok jika dibiarkan apa adanya (Guys, agaknya itu istilah sebenarnya).

Ilustrasi di halaman-halaman yang memajang ceritaku bukan semata ornamen. Pernahkah kau lihat goresan yang begitu menyerupai coretan tangan? Sketsa hitam putih yang tampak nyata? Wajah-wajah yang dibingkai kartu pos dan tulisan sambung di dekatnya? 

Kau akan berkenalan juga dengan Rick. Julia dan Jason berada di sini tanpa pemimpin, karena Nestor sudah tua dan orangtua mereka harus pergi untuk sementara waktu. Rick sudah lama ingin tahu apa yang ada di setiap sudutku. Kau akan lihat kecerdasannya kala bersentuhan dengan buku. 

Tidakkah kau ingin menyertai mereka memecahkan sebuah rahasia? Tidakkah kau ingin menengok beberapa halaman sebuah kamus tua? Tidakkah kau ingin tahu mengapa seorang wanita bernama Oblivia menghendaki aku dengan begitu ngototnya?

----------------------------------------------

Diambil dari Blog review buku Rini NB Hadiyono
http://sinarbulan.multiply.com/

Menampilkan 1 hingga 1 (dari 1 item)