The Real Warriors: How They Beat Their Pain

The Real Warriors: How They Beat Their Pain

Detail Buku


Oleh
ISBN
9786024020941
Rilis
2017
Halaman
208
Berat
0.2 kg
Penerbit
MIZAN PUBLISHING
Bahasa
Indonesia
Rp. 69.000
Rp. 58.650
Kamu, yang tengah sakit adalah seorang pendaki amatir yang tersesat di tepi jurang. Berjalan menuju puncak tanpa peta memadai dan perbekalan yang terbatas. Hanya ada dua pilihan. Diam di tempat dan hilang harapan untuk diselamatkan. Atau, memilih tetap berjalan, berjuang, dengan risiko semakin tersesat atau mungkin terjatuh, tapi berkesempatan melihat sisi puncak yang lebih indah.   Kehilangan fungsi ginjal kanan dan kiri menjadi titik balik kehidupan Tika Musfita. Di usia yang masih belia, dia harus kembali menata ulang rencana hidupnya. Tak lama berkubang duka, Tika bangkit, menemukan dan menginspirasi, bahwa:   Hidup ini bukan tentang apa yang menimpa kita, melainkan apa yang kita lakukan terhadap hal yang menimpa kita.       TENTANG PENULIS   Kehilangan fungsi ginjal kanan dan kiri adalah titik balik kehidupan Tika Musfita. Usianya masih belia, 22 tahun, ketika ia harus kembali menata ulang rencana hidupnya. Mencoret beberapa rencana yang sudah tidak relevan dan menambahkannya dengan hal baru.   Buku ini adalah salah satu dari sekian rencana baru itu, selain pembentukan Indonesian Kidney Donor (IG: indokidneydonor) yang digagasnya bersama beberapa teman untuk kampanye donor organ dan ginjal. Saat ini, Tika tengah menjalankan beberapa rencana hidup di Yogyakarta. Jika ingin mengajaknya bercerita tentang hidup, buku, donor organ, dan Tuhan, silakan menghubungi e-mail: tikamusfita10@gmail.com, atau instagram @tikamusfita. Perjalanan lahirnya buku ini bukan tanpa halangan. Draf buku pertama sudah selesai pada 2015. Sayangnya, kondisi Tika semakin menurun setiap bulannya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengganti terapi cuci darah dengan cuci perut.   Operasi ketiga ia jalani: memasukkan selang-sebagai media cuci perut-yang diletakkan di rongga perut. Cuci darah sebelumnya mengharuskan Tika ke rumah sakit dua kali seminggu, dengan tindakan 5 jam setiap terapi. Sementara, cuci perut ini mengharuskan Tika melakukan terapi 4 kali sehari, @45 menit hingga 1 jam. Dan, kondisi Tika pun membaik. Tika memutuskan untuk kembali menjalani kehidupannya di Yogyakarta. Melakukan hal yang ia sukai. Persis seperti yang ditulis di buku ini. Sepenuh waktu Tika konsentrasikan pada transplantasi di Indonesia hingga menyelenggarakan Charity Fun Run. Sebuah acara amal sekaligus kampanye donor organ dan deklarasi Tolak Jual Beli Organ yang menjadi kasus hangat pada 2016. Pada tahun yang sama, dokter spesialis penyakit dalam yang membantunya mengajak Tika dan teman-teman diIndonesian Kidney Donor mengikuti berbagai seminar berkaitan dengan transplantasi ginjal. Kegiatan ini membuat Tika semakin paham dan memutuskan hal terbesar dalam hidupnya: melakukan transplantasi ginjal.   Proses transplantasi berlangsung lebih dari 9 bulan. Tika memerlukan 3 calon donor untuk sampai pada donor yang tepat, serta 2 kali proses transplantasi hingga akhirnya berhasil. Ayahnya adalah salah satu calon yang gagal menjadi donor pada H-1 sebelum hari transplantasi. Kini, ada 3 ginjal di tubuh Tika: 2 ginjal yang Tuhan berikan sejak dikandung badan dan 1 ginjal yang ia terima dari Mama tercinta. Transplantasi memang tidak menyembuhkannya. Namun, tindakan transplantasi adalah terapi terbaik yang dimiliki dunia medis saat ini. “Percayalah, tidak akan ada kehilangan, tanpa diganti dengan sesuatu yang lebih baik.”    
Silahkan Login untuk memberi rating

Rating:

0/5 dari 0 pembaca

Resensi :