SERAT CENTHINI (JILID 1)

SERAT CENTHINI (JILID 1)

Detail Buku


Oleh
ISBN
9786026486288
Rilis
2018
Halaman
480
Berat
0.3 kg
Penerbit
Baca
Bahasa
Indonesia
Rp. 125.000
Rp. 106.250

Dalam perjalanan sebuah bangsa selalu ada pergulatan untuk mempertahankan eksistensinya. Para leluhur bangsa kita telah mengatasi berbagai persoalan di lingkungan hidup mereka. Satu per satu berhasil diatasi, dan keberhasilan itu lalu dibakukan dan diwariskan kepada anak-cucu mereka. Terbentuklah nilai-nilai yang dibingkai dalam sebuah budaya Nusantara.        

Pada satu masa, keadaan di Nusantara berubah, terutama saat kedatuan Majapahit melemah pada abad ke-15. Akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, Belanda melalui VOC (Kompeni) menancapkan kukunya di bumi kita. Kerajaan, kesultanan, dan kedatuan di Nusantara mulai runtuh. Jika tidak ada pelajaran dan ajaran yang bisa diwariskan kepada generasi anak-cucu, bangsa ini akan lenyap di telan zaman. Maka Adipati Anom Amangkunagara III, yang kemudian menjadi raja Sunan Paku Buwana V, memerintah para pujangga istana untuk mencatat kekayaan alam, adat-istiadat di tiap-tiap daerah, kebiasaan masyarakat, agama-agama dan kehidupan keberagamaan waktu itu, ajaran-ajaran kehidupan esoterik (batin) agama, dan falsafah kehidupan masyarakat. Catatan itu terhimpun menjadi Serat Centhini.       

Serat Centhini terdiri dari 12 jilid. Aslinya ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa yang dipakai di Surakarta pada abad ke-19 (1814-1823) dengan tulisan tangan. Berisi 708 pupuh (bait) tembang macapat yang puitik, Serat Centhini melukiskan keadaan zaman Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645), Sunan Giri I (1487-1506), Sunan Giri II (1506-1546), Sunan Giri III (1546-1548), Sunan Giri IV (1548-1605), dan Sunan Giri V.        

Ada banyak bagian teks Serat Centhini yang maknanya masih tersembunyi, sarat istilah lokal yang sulit dipahami, dan ajaran orang-orang luhur masa lalu yang hanya disebut sepintas tanpa penjelas. Banyak juga metafora dan perumpamaan yang indah tapi artinya mesti dibedah.        

Buku ini hadir untuk membantu kita memahami apa yang diwariskan leluhur bangsa kita awal abad ke-19 itu. Agar maknanya bisa lebih dimengerti, ajarannya bisa dipahami, dan hikmahnya bisa diambil  sebagai pijakan dalam menapaki kehidupan di masa depan, baik untuk diri kita maupun generasi muda Nusantara. Dengan penguasaan prima atas kearifan Jawa dan kelincahan bertutur, Achmad Chodjim mengajak kita mengartikulasikan lebih jauh warisan tak ternilai ini untuk kemajuan, kesejahteraan, kejayaan, dan kemakmuran negara bangsa Indonesia

Silahkan Login untuk memberi rating

Rating:

0/5 dari 0 pembaca

Resensi :

Kategori terkait :