Merah Yang Meremah

Merah Yang Meremah

Detail Buku


Oleh
ISBN
9786028543286
Rilis
2009
Halaman
160
Berat
0.5 kg
Penerbit
Bisnis2030
Bahasa
Indonesia
Rp. 60.000


 

 

"Puisi-puisi yang menyentuh, imajinatif, sarat makna, dan cerdas; telah dihadirkan oleh para kaum perempuan yang memiliki selera nan khas di dalam buku ini."

Leonowens SP
Esais & Sastrawan

 

Sungguh mengejutkan membaca perkembangan puisi penyair wanita Indonesia yang ditampilkan lewat media cyber. Tampak dengan jelas betapa kebebasan yang disediakan oleh media cyber ini terutama FB betul-betul tidak tersia-siakan. Dan kemampuan penyair wanita Indonesia “menjinakkan” media cyber ini jelas berperan penting bagi perkembangan sastra Indonesia. Terima-kasih kepada Kurniawan Junaedhie dengan ide besarnya bagi sastra Indonesia.

Medy Loekito,

Penyair, mantan Direktur Yayasan Multimedia Sastra pengelola situs CybersastraNet

 

Apa yang menarik dari 'perempuan'? Semuanya !!! Baik yang nampak maupun yang tersembunyi darinya adalah 'sesuatu'. Menjadi perempuan tak berarti hanya menjadi sumber keindahan duniawi dan surgawi, namun sebuah kodrat yang menguntungkan. Maskulinitas dan feminitas yang dapat muncul bersamaan adalah sebuah kekuatan. Ia dapat menjadi sexy atau garang pada saat bersamaan, itulah keindahan! Prestasi kuno sebagai 'sumber inspirasi' tentu boleh dilebarkan. Hari ini perempuan dapat menjadikan dirinya sendiri sebagai sumber inspirasi. Ia boleh menjabarkan perasaan dan pikirannya dengan bebas dalam segala bentuk termasuk tulisan, tanpa perlu khawatir terhadap segala aturan baku yang memasung setiap orang untuk patuh pada agama sastra, toh tak ada surga dan neraka di dalamnya. Sebab sastra itu sejatinya ada di dalam jiwa setiap diri, dan bersifat maya.
Trie 'iie' Utami,

Penyair, penyanyi & pencipta lagu

                        

Cukup wajar bila FB menjelma menjadi media baru yang cukup ekspresif untuk mencurahkan berbagai ungkapan perasaan, termasuk puisi yang sebelumnya menjadi wilayah angker bagi orang awam seperti kata Chairil Anwar: “Yang bukan penyair tidak ambil bagian”. Bukankah penyair itu bukan darah turunan dan siapa saja boleh menulis puisi?

Heru Emka,

Penyair, peminat kajian budaya

 

 

 

 


 

4.5
Silahkan Login untuk memberi rating

Rating:

4.5/5 dari 2 pembaca
Buku Terkait
Buku ini juga dikoleksi oleh :
Merah Yang Meremah
Puisi puisi
Oleh : leny pasaribu
Jumlah : 4 Buku
Dibuat : 10 August 2012