Perantau

Perantau

Detail Buku


Oleh
ISBN
9792227350, 9789792227352
Rilis
2007
Halaman
143
Berat
0.5 kg
Penerbit
Gramedia Pustaka Utama
Bahasa
Indonesia
Buku tidak tersedia

Apa rasanya menjadi seorang Perantau? Hal apa yang sebenarnya mereka cari selama merantau di negeri orang? Apakah merantau memang diharuskan? Bagi sebagian kelompok masyarakat di sebuah kampung, merantau adalah sebuah tradisi terutama bagi seorang laki-laki dewasa bahkan seorang Ibu berkata kepada anak laki-laki mereka "Pergilah merantau, Nak."Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau dalam kumpulan cerpennya Perantau. Perantau merupakan kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kepiawaian Gus tf Sakai dalam merangkai kata memang patut diacungi jempol karena kumpulan cerpen sebelumnya yaitu Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.Cerpen-cerpen yang dikumpulkan dalam buku ini bukanlah sebuah rangkaian kisah fiktif roman picisan melainkan sarat akan unsur-unsur moralitas nan berbobot, misalnya dalam cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” kamu akan menemukan kritikan sosial terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Lain halnya dengan cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional. Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress.

Silahkan Login untuk memberi rating

Rating:

0/5 dari 0 pembaca

Resensi :

Kategori terkait :

Buku Terkait