Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita. (hal.312)

Dalam beberapa minggu terakhir, perfilman kita diramaikan oleh film yang diadaptasi dari salah satu novel karya Dee Dewi Lestari, Perahu Kertas.  Film besutan Hanung Bramantyo tersebut  dibuat 2 bagian. Mungkin dirasa kurang jika hanya dirangkum hanya dalam 1 film saja.

Perahu Kertas, kisah remaja yang menuju proses kedewasaan merupakan karya Dee yang cukup ringan dibandingkan karya-karya  lainnya, seperti  seri SupernovaFilosofi Kopi, maupun kumpulan cerita  pendek Madre.

Mengisahkan tentang dua orang remaja, Keenan dan Kugy.  Keenan baru pulang dari Amsterdam, digambarkan sebagai seorang cowok yang tinggi, ganteng, cerdas dan memiliki bakat melukis. Namun kecintaannya pada melukis tidak serta merta mendapat restu dari orang tuanya, terutama papanya karena papanya berharap Keenan akan menjadi penerus perusahaan trading miliknya, selain ada kisah masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Sedangkan Kugy adalah seorang remaja putri yang tidak terlalu peduli pada penampilan, bertubuh mungil, memiliki obsesi sebagai penulis dongeng dan menganggap dirinya sebagai agen Neptunus. Kugy punya kegemaran menuliskan pesan-pesan khusus di atas kertas, lalu kertas dilipat seperti perahu kemudian dihanyutkan di laut, atau aliran air. Kugy berharap pesannya akan sampai pada Neptunus.

Keenan dan Kugy bertemu saat keduanya berada di statiun kereta api di Bandung. Saat Kugy dan sahabat-sahabatnya Noni dan Eko menjemputnya. Keenan adalah sepupu Eko. Keenan menuruti permintaan papanya yang ingin dia kuliah di jurusan Ekonomi. Sedangkan Kugy kuliah di jurusan Sastra sebagai bagian dari obsesinya sebagai penulis dongeng. Pertemuan demi pertemuan selama kuliah di Bandung kemudian saling menautkan hati keduanya, namun pada saat yang sama, Kugy masih memiliki Ojos, yang telah bersamanya selama hampir tiga tahun. Sedangkan Keenan akhirnya dekat dengan Wanda, salah satu anak pemilik gallery lukis Warsita yang cukup ternama, dan akan membantu Keenan dalam proses karya lukisnya hasil pencomblangan Noni yang merupakan teman Wanda.

Dalam salah satu kesempatan, Keenan sempat membuatkan Kugy ilustrasi untuk dongeng-dongeng yang telah ia tulis. Kugy merasa ada seseorang yang akan mewujudkan mimpinya, pelukis yang akan membuatkan ilustrasi untuk dongeng-dongengnya. Selama ini, tidak ada seorang pun yang bisa memahami tentang obesinya, atau pun orang yang bisa menuangkan karakter-karakter khayalannya dalam ilustrasi yang sesuai dengan apa yang ada dalam benaknya. Keenan bisa mewujudkan karakter itu dalam sekejap, hingga Kugy makin merasa dekat dengan mimpinya.

Rasa yang disimpannya untuk Keenan akhirnya menjadi masalah tersediri, terutama dalam langkah hidup Kugy selanjutnya. Demi mengetahui Keenan dekat dengan Wanda, Kugy akhirnya menghindar dengan menjadi pengajar untuk anak-anak  keluarga miskin di salah satu perkampungan. Kugy tidak ingin bertemu Keenan yang kemudian bisa membuatnya sakit hati dan makin membuat pikirannya kacau.

Keenan dan Wanda sebenarnya juga tidak baik-baik saja, Keenan masih belum yakin akan ketulusan hati Wanda, selain perasaannya sendiri yang masih tertuju pada Kugy. Sampai pada akhirnya, ada kejadian Keenan kecewa dengan Wanda karena mengetahui bahwa lukisan-lukisan Keenan yang laku di Gallery ternyata telah dibeli oleh Wanda sendiri bukan kolektor betulan. Kekecewaan itu bertumpuk manakala hari sebelumnya Keenan bertengkar hebat dengan papanya, Keenan memutuskan untuk berhenti kuliah dan ingin hidup dari melukis karena merasa  bisa hidup dari melukis. Setelah kejadian itu, lukisan-lukisannya yang sebelumnya ada di Wanda dikirim ke rumah Pak Wayan teman baik Ibunya yang memiliki gallery lukisan. Keenan memutuskan untuk menetap di Ubud-Bali, tinggal di rumah Pak Wayan, setelah lukisannya laku dibeli oleh seorang kolektor dari Jakarta.

Sementara Kugy, makin tidak bisa membendung perasaannya sendiri. Hingga akhirnya, memutuskan untuk berpisah dengan Ojos. Hari-hari berganti, dan pertemuan dengan orang-orang baru baik Kugy dan Keenan mengisi keduanya. Akankah Keenan dan Kugy akhirnya bertemu kembali dan hati mereka saling bertaut dan impian terpendamnya akan terwujud?

Drama Korea

Saat selesai membaca Perahu Kertas ini, sebenarnya yang terlintas di benak saya adalah cerita ini akan lebih cocok jika diwujudkan dalan bentuk seperti drama seri Korea. Sehingga ceritanya akan lebih detil dan karakter-karakternya bisa lebih lama dinikmati oleh penggemarnya.

Dee cukup piawai merangkai cerita remajanya yang  nama salah satu tokoh utamanya; Keenan, diambil dari nama anak pertamanya. Selayaknya cerita remaja, memang kisahnya tidak terlalu berat atau rumit yang bikin kening berkerut-kerut. Justru kisahnya sangat mudah dicerna dan dinikmati.

Meskipun ringan, tetap ada isi yang ingin disampaikan, bahwa bagaimanapun impian adalah salah satu bahan bakar manusia untuk tetap bisa bersemangat dalam menjalani hidup. Hingga hidup ini tidak  tanpa arah menjalaninya, namun ada tujuan dan impian yang ingin dicapai. Upaya meraih impian tersebut mungkin tidak mudah, dan tidak mulus, tapi tetap terus diperjuangkan. Selain itu juga, ada kejujuran tentang perasaan dan hati yang tidak baik jika terus disembunyikan dan disimpan. Mungkin ketika harus diketahui dan dibuka, ada rasa sakit atau rasa pahit yang dirasa, terutama olah orang-orang lain. Namun, kadang rasa sakit dan pahit tersebut, akan lebih baik dari pada disembunyikan dan akhirnya akan menyakiti lebih dalam pada orang lain. Kisah Perahu Kertas ini seolah memberi  gambaran, perjalanan menuju kejujuran itu juga tidak semulus jalan tol, ada guncangan ombak dan kadang badai yang harus dihadapi. Apapun nantinya yang terjadi, kejujuran akan memberikan cahaya baru dalam kehidupan. ***

Cheers..

Kisah ini dimulai dengan Keenan, seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi.

Di sisi lain, ada Kugy, cewek unik cenderung eksentrik, yang juga akan berkuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Sejak kecil, Kugy menggila-gilai dongeng. Tak hanya koleksi dan punya taman bacaan, ia juga senang menulis dongeng. Cita-citanya hanya satu: ingin menjadi juru dongeng. Namun Kugy sadar bahwa penulis dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan dan mudah diterima lingkungan. Tak ingin lepas dari dunia menulis, Kugy lantas meneruskan studinya di Fakultas Sastra.

Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak kecil. Terkecuali Noni, mereka semua hijrah dari Jakarta, lalu berkuliah di universitas yang sama di Bandung.Mereka berempat akhirnya bersahabat karib.

Lambat laun, Kugy dan Keenan, yang memang sudah saling mengagumi, mulai mengalami transformasi. Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk mengungkapkan, mereka saling jatuh cinta. Namun kondisi saat itu serba tidak memungkinkan. Kugy sudah punya kekasih, cowok mentereng bernama Joshua, alias Ojos (panggilan yang dengan semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat itu dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator muda bernama Wanda.

Persahabatan empat sekawan itu mulai merenggang. Kugy lantas menenggelamkan dirinya dalam kesibukan baru, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya yang paling nakal. Pilik dan kawan-kawan berhasil ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng tentang kisah petualangan mereka sendiri, yang diberinya judul: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Kugy menulis kisah tentang murid-muridnya itu hampir setiap hari dalam sebuah buku tulis, yang kelak ia berikan pada Keenan.

Kedekatan Keenan dengan Wanda yang awalnya mulus pun mulai berubah. Keenan disadarkan dengan cara yang mengejutkan bahwa impian yang selama ini ia bangun harus kandas dalam semalam. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan kehidupannya di Bandung, dan juga keluarganya di Jakarta. Ia lalu pergi ke Ubud, tinggal di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan.

Masa-masa bersama keluarga Pak Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman sohor di Bali, mulai mengobati luka hati Keenan pelan-pelan. Sosok yang paling berpengaruh dalam penyembuhannya adalah Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan mulai bisa melukis lagi. Berbekalkan kisah-kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang diberikan Kugy padanya, Keenan menciptakan lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para kolektor.

Kugy, yang juga sangat kehilangan sahabat-sahabatnya dan mulai kesepian di Bandung, menata ulang hidupnya. Ia lulus kuliah secepat mungkin dan langsung bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywriter. Di sana, ia bertemu dengan Remigius, atasannya sekaligus sahabat abangnya. Kugy meniti karier dengan cara tak terduga-duga. Pemikirannya yang ajaib dan serba spontan membuat ia melejit menjadi orang yang diperhitungkan di kantor itu.

Namun Remi melihat sesuatu yang lain. Ia menyukai Kugy bukan hanya karena ide-idenya, tapi juga semangat dan kualitas unik yang senantiasa terpancar dari Kugy. Dan akhirnya Remi harus mengakui bahwa ia mulai jatuh hati. Sebaliknya, ketulusan Remi juga akhirnya meluluhkan hati Kugy.

Sayangnya, Keenan tidak bisa selamanya tinggal di Bali. Karena kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk, Keenan terpaksa kembali ke Jakarta, menjalankan perusahaan keluarganya karena tidak punya pilihan lain.

Pertemuan antara Kugy dan Keenan tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi. Semuanya dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali, hati mereka diuji. Kisah cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.

Diwarnai pergelutan idealisme, persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas” tak lain adalah kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan rumahnya.
 

Menampilkan 1 hingga 4 (dari 4 item)

Terkadang kita tak perlu pergi jauh-jauh untuk mencari cinta sejati kita. Mungkin saja bisa kita temukan diantara sahabat-sahabat kita. Intensitas yang sering bertemu sahabat-sahabat kita bisa jadi menumbuhkan benih-benih cinta.


Seperi dalam novel ini. Kugy dan Keenan yang awalnya adalah sahabat dekat. Kedekatan mereka menumbuhkan benih-benih cinta. Meski hubungan mereka pasang surut seperti gelombang laut, pada akhirnya mereka bedua dipertemukan di pelabuhan cinta.

Impian dan cinta ?

Mungkin membaca novel perahu kertas ini akan menjawabnya. Cinta atau impian. dua orang yang berbeda, kugi dan keenan. aku memanglah bukan cewek yang suka memilih antara impian dan cinta. Karna aku tau cinta dan impian adalah hidupku. Tanpa keduanya hidupku akan beku. Tapi aku sadar karena kugi dan keenan mengajarkan aku satu hal, antara cinta dan impian. jangan lupa resapi kisahnya :D


Sumber:

Perahu Kertas merupakan novel keenam Dewi Lestari atau yang lebih akrab dipanggil Dee. Setelah sukses memikat hati para pembaca dengan buku tritologi Supernova-nya, Dee meluncurkan sebuah novel berjudul Perahu Kertas, yang sempat mati suri selama sebelas tahun karena dilupakan. Namun, akhirnya, novel ini berhasil diselesaikan dalam waktu 55 hari berkat kegigihan dan kenekatan seorang Dee. Bahkan Dee tidak meneruskan novel ini dari bab ke 34 sebagaimana yang dia tinggalkan sebelas tahun yang lalu. Melainkan  Dee menulis ulangnya dari nol. Dan Dee pun meresmikan sebuah proyek “bunuh diri”, yakni menulis novel sepanjang 75.000 kata dalam waktu 55 hari kerja.

Novel Dee kali ini, Perahu Kertas, berbeda dari novel-novel Dee yang lain. Novel Perahu Kertas lebih mudah dibaca dikarenakan kata-katanya yang ringan dan tidak terlalu berat. Tidak seperti novel Dee yang lain, yaitu Supernova, yang mempunyai kata-kata yang berat dan banyak terdapat istilah-istilah sains di dalamnya. Tetapi, Perahu Kertas juga merupakan novel yang berat jika dibandingkan dengan novel chicklit atau teenlit dikarenakan panjangnya cerita.

Jika para pembaca yang sudah membaca novel-novel Dee sebelumnya, mungkin, pada awal-awal membaca novel ini akan beranggapan bahwa ini bukanlah tulisan Dee, dikarenakan kata-kata yang ditulis oleh Dee di novel ini lebih ringan dan gaya bahasanya seperti gaya bahasa para penulis remaja pada umumnya. Namun jika novel ini ditelusuri lebih dalam, kekhasan Dee dalam menulis sebuah cerita pasti akan muncul dalam kata-katanya yang penuh makna dan berisi.

Sekilas novel Perahu Kertas tampak standar dan biasa-biasa saja karena bertemakan tentang cinta.  Tetapi seolah-olah novel Perahu Kertas membuka sebuah cakrawala baru. Cerita tentang cinta namun banyak unsur lain yang mendukung dan kuat dalam novel ini yang membuat novel ini begitu inspiratif dan edukatif, seperti tentang mimpi, persahabatan, dan kekeluargaan. Penggambaran tokoh, latar, dan alur yang begitu kreatif dan jelas membuat para pembaca novel Perahu Kertas tidak segan-segan untuk bermain dengan dunia imajinasinya dan membayangkan secara nyata apa yang terjadi dalam ceritanya.

Cerita yang terdapat pada novel Perahu Kertas dimulai dari kisah seorang Keenan, remaja yang baru saja lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal bersama neneknya di Amsterdam. Namun karena perjanjian dengan ayahnya, Keenan terpaksa pulang ke Indonesia dan berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi. Sementara Keenan sendiri sangat tidak menginginkannya dan lebih memilih untuk menjadi seorang pelukis dibandingkan seorang businessman. Keenan memiliki bakat melukis yang kuat dari ibunya dan dia tidak mempunyai cita-cita lain selain menjadi pelukis.

Sementara, di sisi lain, ada Kugy, seorang cewek unik yang cenderung banyak kejutan di dalam kehidupannya. Kugy juga akan berkuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Tak beda dengan Keenan, Kugy pun mempunyai cita-citanya sendiri, yaitu menjadi juru dongeng. Kugy sangat menggilai dongeng. Tak hanya mengkoleksi buku-buku dongeng dan punya taman bacaan, Kugy juga sangat senang menulis dongeng. Walaupun Kugy yakin menjadi seorang juru dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan yang akan diterima dengan mudah oleh khalayak umum. Akan tetapi, Kugy tak ingin lepas begitu saja dari dunia tulis menulis, Kugy lantas meneruskan pendidikannya di Fakultas Sastra.

Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko merupakan sepupu Keenan. Sementara Noni merupakan teman Kugy sejak mereka berdua masih kecil. Mereka berempat akhirnya bersahabat karib.

Lambat laun, Kugy dan Keenan saling mengagumi dan tanpa mereka sadari mereka saling jatuh cinta, tanpa pernah ada kesempatan untuk saling mengungkapkan, dikarenakan situasi yang tidak memungkinkan.  Kugy sudah mempunyai pacar bernama Ojos (panggilan yang semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat itu sedang dicomblangkan oleh Wanda, seorang kurator muda, yang merupakan sepupu Noni.

Persahabatan empat sekawan itu mulai merenggang sejak adanya Wanda. Kugy lantas menjalani kegiatannya yang baru dan sibuk dengan kegiatan itu, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah Kugy bertemu dengan Pilik, muridnya yang nakal namun kelihatan cerdas. Pilik dan kawan-kawannya berhasil ditaklukan oleh Kugy dengan cara, ia membuatkan mereka kisah petualangan dengan mereka sebagai tokohnya, yang diberi judul: Jendral Pilik dan Pasukan Alit.  Kugy menuliskan kisah petualangan murid-muridnya itu di sebuah buku tulis, yang kelak diberikan kepada Keenan.

Hubungan Keenan dan Wanda yang semula mulus, akhirnya hancur dalam semalam. Begitu juga dengan impian Keenan yang selama ini ia bangun dan perjuangkan, kandas dengan cara yang mengejutkan bersamaan dengan hancurnya hubungan ia dengan Wanda. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan kehidupannya di Bandung dan keluarganya di Jakarta, lalu pergi ke Ubud dan tinggal bersama Pak Wayan yang merupakan sahabat ibunya.

Hari-hari bersama keluarga Pak Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman yang cukup disegani di Bali, sedikit demi sedikit mulai mengobati hati Keenan. Sosok yang sangat berpengaruh dalam penyembuhannya yaitu Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan pun akhirnya mulai bisa melukis lagi. Berbekal kisah petualangan Jendral Pilik dan Pasukan Alit yang diberikan oleh Kugy, Keenan membuat lukisan-lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para korektor.

Kugy, yang kesepian dan kehilangan sahabat-sahabatnya di Bandung, menata ulang hidupnya. Ia cepat-cepat lulus kuliah dan langsung bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywritter. Di sana, ia bertemu dengan Remigius Aditya, atasan yang sekaligus sahabat abangnya, Karel. Dengan cara yang tak terduga karier Kugy naik daun dan menjadi orang yang diperhitungkan di kantor itu karena pemikirannya yang ajaib dan serba spontan.

Namun sosok Remigius tidak melihat Kugy dari sisi itu. Remi menyukai Kugy tidak hanya dari ide-idenya, tapi juga semangat dan sisi keunikan Kugy. Dan akhirnya Remi pun harus mengakui bahwa ia jatuh hati kepada Kugy. Sebaliknya, ketulusan Remi meluluhkan hati Kugy dan membuatnya memilih Remi.

Keenan tidak bisa selamanya tinggal di Bali. Kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk, memaksanya untuk pulang ke Jakarta dan harus menjalankan perusahaan ayahnya karena tidak mempunyai pilihan lain.

Pertemuan antara Keenan dan Kugy tidak bisa terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi dan bercanda seperti masa-masa jayanya dulu. Semuanya dengan kondisi yang berbeda. Dan kembali hati mereka diuji. Kisah cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa memasrahkan dirinya kemana aliran cinta membawanya.

Dari sinopsis di atas, kita bisa menghetahui, bahwa sesungguhnya, kemanapun cinta kita dilabuhkan di suatu tempat yang kita mau, tetapi sejujurnya, hati selalu tahu dimana sepantasnya ia dimuarakan.  Hati tidak perlu memilih siapa yang akan dicintainya, tetapi sebaliknya, hati dipilih oleh cinta itu sendiri. Novel ini diwarnai oleh pergelutan idealisme, tawa, tangis, dan cinta. Semua dikemas rapi oleh Dee sehingga meninggalkan bekas yang mendalam setelah membaca novel ini.

Walaupun banyak latar yang dipakai oleh novel ini, yaitu Belanda, Jakarta, Pantai Ranca Buaya, dan Ubud, tidak sama sekali membuat para pembaca kebingungan saat membacanya dan menjadikan novel ini banyak detail-detail penjelasan latar yang tidak diperlukan. Tetapi sebaliknya, cerita ini mengalir begitu saja bagai perahu kertas yang berlayar tanpa halangan. Meskipun pada bagian bahasa Balinya menggunakan bahasa yang termasuk kasar karena ejekkan tetapi tidak mengurangkan nilai novel Perahu Kertas di hati para pembaca.

Kesimpulan yang bisa didapatkan oleh para pembaca novel Perahu Kertas sendiri tak lebih dan tak bukan adalah pujian-pujian yang mampu membangkitkan semangat untuk membaca novel ini sendiri. Novel ini begitu edukatif dikarenakan kita bisa banyak belajar dari novel ini. Mulai dari bagaimana kita harus tetap semangat dalam meraih mimpi-mimpi kita.  Dan ada satu kutipan kata yang begitu mengena dalam novel ini, “Kita harus menjadi sesuatu yang bukan diri kita, untuk akhirnya menjadi sesuatu yang merupakan diri kita sendiri”.Terkadang tidak semua mimpi kita bisa kita raih begitu saja. Banyak pengorbanan yang harus dilakukan dan salah satunya adalah menjadi apa yang bukan diri kita inginkan, seperti halnya Kugy. Untuk menjadi seorang juru dongeng tidak semudah membalikan telapak tangan. Kugy berpikir, dia harus mempunyai profesi yang layak dan menghasilkan gaji yang cukup untuk memenuhi kehidupannya. Baru setelah itu, dia mempunyai profesi sampingan berupa juru dongeng.

Dari novel ini kita juga belajar arti dari sebuah perjuangan dalam meraih cita-cita dan impian yang kita damba-dambakan. Jadi, untuk seseorang yang sedang putus asa dan kehilangan semangatnya, novel ini layak dikonsumsi untuk membangkitkan semangat dan menambah inspirasi. Dibumbui kisah cinta yang begitu membuat emosi melonjak-lonjak, novel Perahu Kertas sangat membantu kita untuk belajar lebih lanjut apa arti dari cinta itu sendiri. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang,  di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.

Perahu Kertas merupakan novel keenam Dewi Lestari atau yang lebih akrab dipanggil Dee. Setelah sukses memikat hati para pembaca dengan buku tritologi Supernova-nya, Dee meluncurkan sebuah novel berjudul Perahu Kertas, yang sempat mati suri selama sebelas tahun karena dilupakan. Namun, akhirnya, novel ini berhasil diselesaikan dalam waktu 55 hari berkat kegigihan dan kenekatan seorang Dee. Bahkan Dee tidak meneruskan novel ini dari bab ke 34 sebagaimana yang dia tinggalkan sebelas tahun yang lalu. Melainkan  Dee menulis ulangnya dari nol. Dan Dee pun meresmikan sebuah proyek “bunuh diri”, yakni menulis novel sepanjang 75.000 kata dalam waktu 55 hari kerja.

Novel Dee kali ini, Perahu Kertas, berbeda dari novel-novel Dee yang lain. Novel Perahu Kertas lebih mudah dibaca dikarenakan kata-katanya yang ringan dan tidak terlalu berat. Tidak seperti novel Dee yang lain, yaitu Supernova, yang mempunyai kata-kata yang berat dan banyak terdapat istilah-istilah sains di dalamnya. Tetapi, Perahu Kertas juga merupakan novel yang berat jika dibandingkan dengan novel chicklit atau teenlit dikarenakan panjangnya cerita.

Jika para pembaca yang sudah membaca novel-novel Dee sebelumnya, mungkin, pada awal-awal membaca novel ini akan beranggapan bahwa ini bukanlah tulisan Dee, dikarenakan kata-kata yang ditulis oleh Dee di novel ini lebih ringan dan gaya bahasanya seperti gaya bahasa para penulis remaja pada umumnya. Namun jika novel ini ditelusuri lebih dalam, kekhasan Dee dalam menulis sebuah cerita pasti akan muncul dalam kata-katanya yang penuh makna dan berisi.

Sekilas novel Perahu Kertas tampak standar dan biasa-biasa saja karena bertemakan tentang cinta.  Tetapi seolah-olah novel Perahu Kertas membuka sebuah cakrawala baru. Cerita tentang cinta namun banyak unsur lain yang mendukung dan kuat dalam novel ini yang membuat novel ini begitu inspiratif dan edukatif, seperti tentang mimpi, persahabatan, dan kekeluargaan. Penggambaran tokoh, latar, dan alur yang begitu kreatif dan jelas membuat para pembaca novel Perahu Kertas tidak segan-segan untuk bermain dengan dunia imajinasinya dan membayangkan secara nyata apa yang terjadi dalam ceritanya.

Cerita yang terdapat pada novel Perahu Kertas dimulai dari kisah seorang Keenan, remaja yang baru saja lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal bersama neneknya di Amsterdam. Namun karena perjanjian dengan ayahnya, Keenan terpaksa pulang ke Indonesia dan berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi. Sementara Keenan sendiri sangat tidak menginginkannya dan lebih memilih untuk menjadi seorang pelukis dibandingkan seorang businessman. Keenan memiliki bakat melukis yang kuat dari ibunya dan dia tidak mempunyai cita-cita lain selain menjadi pelukis.

Sementara, di sisi lain, ada Kugy, seorang cewek unik yang cenderung banyak kejutan di dalam kehidupannya. Kugy juga akan berkuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Tak beda dengan Keenan, Kugy pun mempunyai cita-citanya sendiri, yaitu menjadi juru dongeng. Kugy sangat menggilai dongeng. Tak hanya mengkoleksi buku-buku dongeng dan punya taman bacaan, Kugy juga sangat senang menulis dongeng. Walaupun Kugy yakin menjadi seorang juru dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan yang akan diterima dengan mudah oleh khalayak umum. Akan tetapi, Kugy tak ingin lepas begitu saja dari dunia tulis menulis, Kugy lantas meneruskan pendidikannya di Fakultas Sastra.

Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko merupakan sepupu Keenan. Sementara Noni merupakan teman Kugy sejak mereka berdua masih kecil. Mereka berempat akhirnya bersahabat karib.

Lambat laun, Kugy dan Keenan saling mengagumi dan tanpa mereka sadari mereka saling jatuh cinta, tanpa pernah ada kesempatan untuk saling mengungkapkan, dikarenakan situasi yang tidak memungkinkan.  Kugy sudah mempunyai pacar bernama Ojos (panggilan yang semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat itu sedang dicomblangkan oleh Wanda, seorang kurator muda, yang merupakan sepupu Noni.

Persahabatan empat sekawan itu mulai merenggang sejak adanya Wanda. Kugy lantas menjalani kegiatannya yang baru dan sibuk dengan kegiatan itu, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah Kugy bertemu dengan Pilik, muridnya yang nakal namun kelihatan cerdas. Pilik dan kawan-kawannya berhasil ditaklukan oleh Kugy dengan cara, ia membuatkan mereka kisah petualangan dengan mereka sebagai tokohnya, yang diberi judul: Jendral Pilik dan Pasukan Alit.  Kugy menuliskan kisah petualangan murid-muridnya itu di sebuah buku tulis, yang kelak diberikan kepada Keenan.

Hubungan Keenan dan Wanda yang semula mulus, akhirnya hancur dalam semalam. Begitu juga dengan impian Keenan yang selama ini ia bangun dan perjuangkan, kandas dengan cara yang mengejutkan bersamaan dengan hancurnya hubungan ia dengan Wanda. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan kehidupannya di Bandung dan keluarganya di Jakarta, lalu pergi ke Ubud dan tinggal bersama Pak Wayan yang merupakan sahabat ibunya.

Hari-hari bersama keluarga Pak Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman yang cukup disegani di Bali, sedikit demi sedikit mulai mengobati hati Keenan. Sosok yang sangat berpengaruh dalam penyembuhannya yaitu Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan pun akhirnya mulai bisa melukis lagi. Berbekal kisah petualangan Jendral Pilik dan Pasukan Alit yang diberikan oleh Kugy, Keenan membuat lukisan-lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para korektor.

Kugy, yang kesepian dan kehilangan sahabat-sahabatnya di Bandung, menata ulang hidupnya. Ia cepat-cepat lulus kuliah dan langsung bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywritter. Di sana, ia bertemu dengan Remigius Aditya, atasan yang sekaligus sahabat abangnya, Karel. Dengan cara yang tak terduga karier Kugy naik daun dan menjadi orang yang diperhitungkan di kantor itu karena pemikirannya yang ajaib dan serba spontan.

Namun sosok Remigius tidak melihat Kugy dari sisi itu. Remi menyukai Kugy tidak hanya dari ide-idenya, tapi juga semangat dan sisi keunikan Kugy. Dan akhirnya Remi pun harus mengakui bahwa ia jatuh hati kepada Kugy. Sebaliknya, ketulusan Remi meluluhkan hati Kugy dan membuatnya memilih Remi.

Keenan tidak bisa selamanya tinggal di Bali. Kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk, memaksanya untuk pulang ke Jakarta dan harus menjalankan perusahaan ayahnya karena tidak mempunyai pilihan lain.

Pertemuan antara Keenan dan Kugy tidak bisa terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi dan bercanda seperti masa-masa jayanya dulu. Semuanya dengan kondisi yang berbeda. Dan kembali hati mereka diuji. Kisah cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa memasrahkan dirinya kemana aliran cinta membawanya.

Dari sinopsis di atas, kita bisa menghetahui, bahwa sesungguhnya, kemanapun cinta kita dilabuhkan di suatu tempat yang kita mau, tetapi sejujurnya, hati selalu tahu dimana sepantasnya ia dimuarakan.  Hati tidak perlu memilih siapa yang akan dicintainya, tetapi sebaliknya, hati dipilih oleh cinta itu sendiri. Novel ini diwarnai oleh pergelutan idealisme, tawa, tangis, dan cinta. Semua dikemas rapi oleh Dee sehingga meninggalkan bekas yang mendalam setelah membaca novel ini.

Walaupun banyak latar yang dipakai oleh novel ini, yaitu Belanda, Jakarta, Pantai Ranca Buaya, dan Ubud, tidak sama sekali membuat para pembaca kebingungan saat membacanya dan menjadikan novel ini banyak detail-detail penjelasan latar yang tidak diperlukan. Tetapi sebaliknya, cerita ini mengalir begitu saja bagai perahu kertas yang berlayar tanpa halangan. Meskipun pada bagian bahasa Balinya menggunakan bahasa yang termasuk kasar karena ejekkan tetapi tidak mengurangkan nilai novel Perahu Kertas di hati para pembaca.

Kesimpulan yang bisa didapatkan oleh para pembaca novel Perahu Kertas sendiri tak lebih dan tak bukan adalah pujian-pujian yang mampu membangkitkan semangat untuk membaca novel ini sendiri. Novel ini begitu edukatif dikarenakan kita bisa banyak belajar dari novel ini. Mulai dari bagaimana kita harus tetap semangat dalam meraih mimpi-mimpi kita.  Dan ada satu kutipan kata yang begitu mengena dalam novel ini, “Kita harus menjadi sesuatu yang bukan diri kita, untuk akhirnya menjadi sesuatu yang merupakan diri kita sendiri”.Terkadang tidak semua mimpi kita bisa kita raih begitu saja. Banyak pengorbanan yang harus dilakukan dan salah satunya adalah menjadi apa yang bukan diri kita inginkan, seperti halnya Kugy. Untuk menjadi seorang juru dongeng tidak semudah membalikan telapak tangan. Kugy berpikir, dia harus mempunyai profesi yang layak dan menghasilkan gaji yang cukup untuk memenuhi kehidupannya. Baru setelah itu, dia mempunyai profesi sampingan berupa juru dongeng.

Dari novel ini kita juga belajar arti dari sebuah perjuangan dalam meraih cita-cita dan impian yang kita damba-dambakan. Jadi, untuk seseorang yang sedang putus asa dan kehilangan semangatnya, novel ini layak dikonsumsi untuk membangkitkan semangat dan menambah inspirasi. Dibumbui kisah cinta yang begitu membuat emosi melonjak-lonjak, novel Perahu Kertas sangat membantu kita untuk belajar lebih lanjut apa arti dari cinta itu sendiri. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang,  di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.


Sumber:

 

Kugy Karmachameleon a.k.a Kugy Alisa Nigroho. Kugy adalah saya banget!! Coba, dia sangat suka baca. Seperti predator di hutan rimba, ia memburu para penyewa nakal dengan sepeda mininya, hingga mereka tersudut dan tidak ada cara lain agar berhenti dikejar-kejar selain mengembalikan buku. Suatu hari ia bukan hanya seorang kolektor buku dongeng. Ia akan menulis dongengnya sendiri, kendati jalan yang ditempuhnya harus berputar-putar.

Nah, dia juga suka makan, tapi kurus (saya banget juga ini!! ;p) Kugy bilang, “Ususku di mana-mana. Kalau tanganku dibelek, ketemunya juga usus.” Selain narik becak dan gali kubur, pekerjaan menghayal dan menulis ternyata juga butuh asupan kalori tinggi. Kalau Kugy disebut punya ular boa di perutnya, saya disebut punya naga karena nggak bisa kenyang! >.<

Keenan. Err..ini seperti adik saya yang pertama. Suka seni, bedanya kalau Keenan suka melukis. Adik saya suka graffiti. Di kehidupan Keenan, kita akan diajak menelusuri antara garis minat, cita-cita dan keinginan orangtua.

Sekolah Alit mengingatkan saya akan Rumah Mandalawani, di Desa Nagrek. Sewaktu kuliah, tiga teman saya: Acep, Ima dan Mira merintis rumah bacaan ini. Kalau saya sih cuma jadi penggembira :D Di sekolah Alit inilah tercetus buku Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang nantinya merupakan benang merah antara Keenan dan Kugy.

Dee bilang, buku ini salah satunya diinspirasi dari komik Pop Corn, karya Yoko Shoji. Pop Corn merupakan komik serial cantik pertama yang saya baca dan satu-satunya yang membuat saya menangis tersedu-sedu sewaktu membacanya. Walaupun saya tidak punya koleksinya, -dulu meminjam di penyewaan buku-, saya punya komik side-storynya: Okita in Memory. Ojos, Ludhe, Remi, Noni, dan Eko. Itulah beberapa nama yang menghiasi kehidupan mereka.

Kugy serasa mendapat tamparan keras sewaktu Keenan mengkritik cerpennya. Dalam dongengnya ia bercerita untuk memuaskan dirinya sendiri, sementara dalam cerpennya ia bercerita untuk memuaskan orang lain. Sejak itulah Kugy menulis sesuai hati dan pikirannya.

Germis, wangi tanah kena hujan, kopi dan pisan. Wah ini saya juga suka!! Dulu, setiap saya pulang ke rumah, di Lampung. Hal yang selalu saya lakukan adalah menghirup bahkan mengendus tanah yang tersiram hujan. Rasanya tidak ada duanya. Sangat alami!! C:

Oke, saya tidak akan cerita panjang lebar lagi. Ntar makin spoiler deh! Mungkin yang kurang adalah kurang digambarkan kehidupan kampus dan keseharian kuliah Keenan dan Kugy. Kemudian, sebagai mahasiswa yang pernah kuliah lima tahun di Bandung –Jatinangor, Bandung coretlah- saya kurang merasakan setting Bandungya, hanya BIP yang sering dijadikan setting. Oya, penjilidannya kurang bagus. Kepada Penerbit Bentang, tolong penjilidannya lebih rekat lagi, biar nggak khawatir bacanya ^-^

Neptunus, semua nelayan yang sedang mencari arah akan diberi petunjuk oleh bintang di langit. Semoga dia menemukan bintangnya dan kembali menemukan jalannya pulang.

Beberapa quotes di buku ini:
-Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini tidak cukup untuk membelinya. Uang memang tidak akan pernah jadi ukuran. Rasa percaya dan uang ada di dimensi yang sama sekali lain.
-Tulisan baru bermakna kalau ada yang baca.
-kekosongan, siapa pun tidak akan bisa memulai sesuatu.
-Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.
-Tidak mudah menjadi bayang-bayang orang lain. Lebih baik, tunggu sampai hatinya sembuh dan memutuskan dalam keadaan jernih. Tanpa baying-bayang siapapun.
-Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar hitam yang kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.
-Siapa pun yang cuma modal bodi doang, nggak bakalan lama. Ini kan zaman inner beauty.
-Menjadi diri sendiri itu memang paling enak.
-Ketidaktahuan adalah awal yang baik. Segala Sesuatu diawali dengan tidak tahu, ikuti saja…
-Bintang yang sama takkan pernah kembali untuk yang kedua kali.
-Ikuti saja kata hati kamu. Kemana pun itu. Hati tak bisa bohong.
-Bagaimana kita bisa tahu kapan waktunya untuk menyerah, dan kapan waktunya untuk bertahan?
-Hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apapun, semua sudah disiapkan bagi kita. Kamu tinggal merasakan saja.
- Secerdas-cerdasnya otak kamu, nggak mungkin bisa dipakai untuk mengerti hati. Dengerin aja hati kamu.

Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.


Sumber:
Menampilkan 1 hingga 4 (dari 4 item)