"Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin"

 
Demikian kalimat label peringatan itu kerap kita baca di kemasan rokok atau iklan-iklan rokok, namun jangan kaget kalau ternyata label peringatan itu tertera di sebuah novell Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Mengapa? Apakah dengan membaca novel ini maka kita akan ketagihan untuk merokok?
 
Novel dengan cover sangat menarik sekaligus provokatif berupa ilustrasi etiket rokok bergambar seorang gadis berkebaya yang sedang memegang rokok ini memang kaya dengan wangi tembakau, bukan karena kertasnya beraroma tembakau namun karena kisahnya berlatar belakang keluarga pengusaha pabrik rokok kretek.
 
Kisah Gadis Kretek dimulai saat Soeraja, pemilik pabrik kretek  Djagad Raja, kretek nomor satu di Indonesia sedang sekarat. Dalam menanti ajalnya, ia menggigau-ngigau sebuah nama wanita “Jeng Yah” nama wanita yang seharusnya tak lagi boleh diucapkan dari mulut Soeraja yang telah beristri dan memiliki tiga orang anak yang telah dewasa. Nama itu kontan membangunkan hantu masa lalu yang selama ini dikubur rapat-rapat oleh Soeraja dan istrinya dan hal ini tentu saja membuat kegundahan di keluarga Soeraja.
 
Tegar, Karim, dan Lebas, tiga putra Seoraja sekaligus pewaris kerajaan Kretek Djagad Raja  berusaha mencoba mencari tahu siapa Jeng Yah yang diigaukan oleh ayah mereka. Ketika akhirnya diketahui bahwa ayah mereka ingin bertemu dengan Jeng Yah  mereka segera berangkat pergi ke pelosok Jawa, berlomba dengan malikat maut untuk mencari Jeng Yah sebelum ajal menjemput sang Ayah
 
Pencarian ini akhirnya membuat mereka menyelusuri sejarah Kretek Djagad Raja, perjuangan sang ayah  mendirikan kerajaaan kreteknya dan kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, si Gadis Kretek yang yang menemukan ramuan istimewa rokok kretek dari sari cengkeh yang menempel di tangannya dan ludah manisnya saat ia melinting rokok khusus untuk ayahnya
 
Tak hanya itu, dalam novel ini juga dikisahkan bagaimana ketatnya persaingan antara Idroes Moeria, ayah Jeng Yah dengan Soejagad, teman masa kecilnya yang bermula dari persaingan memperebutkan seorang gadis hingga terus berlanjut ke persaingan bisnis kretek dengan intrik-intrik yang tak terduga.
 
Persaingan antara Seodjagad dengan Idroes Moeria terus berlangsung, namun usaha Idroes Moeria dengan merek dagang Kretek Gadis tetap berjaya apalagi setelah  Jeng Yah dan Soeraja ikut mengelola pabrik Kretek Gadis.  Kedekatan Jeng Yah dengan Soeraja dalam mengelola Kretek Gadis menumbuhkan cinta diantara mereka sayangnya ketika mereka hendak menikah, peristiwa G30S memporak-porandakan cita-cita mereka.
 
Seperti diungkapkan di awal review ini, buku ini sarat dengan aroma tembakau. Dari awal hingga akhir cita rasa tembakau, cengkeh, rokok kretek,  mewarnai novel ini. Tampaknya novel ini dipersiapkan dengan riset yang cukup matang. Dengan lancar penulis mengurai segala sesuatu tentang kretek, sejarah kretek, cara membuat kretek mulai dari penggunaan daun jagung yang dikeringkan/kolobot  lalu diisi tembakau plus cengkeh, klobot  klembak menyan,  hingga akhirnya menggunakan papier (kertas pembungkus campuran tembakau).
 
Dengan fasih, penulis juga mengisahkan tahap-tahap pembuatan rokok kretek secara manual dari masa ke masa, mulai dari penggunaan  tembakau dan cengkeh  hingga akhirnya ditambah dengan saus (tobacco flavor) yang menjadikan rokok kretek semakin beraroma dan nikmat. Di novel ini juga kita akan mengetahui kalau dahulu kala rokok kretek juga dijual di toko obat karena cengkeh yang terkandung dalam rokok  dipercaya dapat menyembuhkan penyakit asma.
 
Selain tentang kretek yang melatari  kisah cinta Gadis Kretek dan persaingan antar pengusaha kretek, novel ini juga dilatari oleh peristiwa paska  G30S. Saat dimana partai komunis dan semua yang tersangkut di dalamnya ditangkap, ditembaki, dan dibuang ke sebuah kali.
 
Lewat tokoh Soeraja kita akan melihat bagaimana Soeraja yang buta politik akhirnya menjadi korban keganasan penduduk dan aparat yang marah terhadap PKI. Saat Soeraja membutuhkan modal untuk mendirikan pabrik kretek ternyata  Partai Komunis di kotanya bersedia memberikan modalnya. Naluri bisnisnya menggerakkannya untuk  membuat kretek cap Arit Merah dengan pemikiran rokok itu akan banyak diminati orang khususnya pendukung Partai Komunis yang saat itu merupakan partai besar dan resmi yang tentunya memiliki massa yang sangat banyak.
 
Soeraja tidak berpolitik ia hanya menjalankan bisnisnya, namun ia tak luput dari kejaran aparat dan warga yang menuduhnya antek komunis untungnya ia dapat melarikan diri, tak hanya dirinya, Idroes moria dan si Gadis Kretek ikut ditangkap dengan alasan pernah mempekerjakan Soeraja . Dan yang lucu, salah satu alasan ditangkapnya Idroes Moeria adalah karena rokok Kretek Merdeka produksinya menggunakan kertas papier berwarna merah,warna PKI, padahal Indoes membuatnya jauh sebelum peristiwa G30S dan warna merah ia pakai untuk mengingatkan perokoknya akan bendera merah putih.
 
Yang membuat novel ini menarik  adalah bagaimana penulis menggabungkan berbagai latar dan kisah seperti  sejarah kretek, kisah cinta, intrik persaingan bisnis, pertarungan harga diri, plus sisi budaya dan historis yang melatarinya  dengan porsi yang tepat dalam rangkaian kalimat-kalimat yang sederhana  sehingga semua unsur tersebut menyatu menjadi sebuah rangkaian kisah yang membuat  kita betah untuk terus membacanya hingga akhir.
 
Namun sayangnya, ada beberapa hal yang menjadi kekurangan dalam novel ini. Kisah Gadis Kretek  sendiri  dan eksplorasi karakter Gadis Kretek yang menjadi judul novel ini saya rasa kurang tergali dan kurang mendominasi, masih kalah porsinya dibanding kisah Idroes Moeria (ayah Gadis Kretek) dan Soeraja (kekasih Gadis Kretek) sehingga dibanding sang Gadis Kretek kita akan lebih banyak melihat kisah kegigihan Idroes Moeria dan Soeraja dalam meraih cinta dan menjalankan pabrik kreteknya. Andai saja porsi kisah dan karakter Gadis Kretek lebih ditonjolkan tentunya novel ini akan semakin menarik.
 
Selain itu novel ini juga sangat lemah dalam hal editing, beberapa typo masih ditemui di sana sini. Ada penulisan nama tokoh yang  tertukar, kejanggalan logika cerita , ketidak konsistenan penggunaan ejaan lama dan sebagainya.  Saya tidak akan mengungkapkannya secara detail di sini karena kejanggalan atau kesalahan-kesalahan yang saya temui hampir sama dengan apa yang ditemukan oleh Fajar S Pramono yang dengan sangat teliti telah  menemukan berbagai kejanggalan dalam novel ini di reviewnya.
 
Terlepas dari berbagai kekurangan dan kejanggalan tersebut,  walau tak sempurna novel ini tetap memberikan kesan tersendiri  bagi saya dan patut mendapat perhatian bagi pembaca tanah air.  Novel ini  bukan hanya soal kasih tak sampai, kuatnya cinta, cemburu buta, kejamnya intrik bisnis, dan soal harga diri yang terungkap lewat kisah dan karakter tokoh-tokohnya, melainkan sebuah novel yang dalam kapasitasnya berusaha merekam sejarah perkembangan rokok kretek lengkap dengan sisi historis dan budayanya.  
 
@htanzil


Sumber:
Menampilkan 1 hingga 1 (dari 1 item)

Waktu baca ini di sekolah, ada Pak Guru yang melirik buku ini dan penasaran dengan isi ceritanya. Trus, kami jadi bahas rokok, kretek dan klobot. Pak guru tersebut bercerita tentang masa kecilnya yang sering membuat klobot. Deskripsinya mirip ama pembuatan klobot di buku ini:

….ia meminjam setrika arang milik simboknya, lalu dengan penuh hati-hati disetrikanya daun jagung yang telah kering itu. Setelah itu, ia menggunting satu per satu lembaran daun jagung tadi, dan jadilah klobot. (hlm. 60)

..dia cipratkan sakarin  secara merata agar klobot menjadi manis. Ini pula yang membuat klobot anti air. (hlm. 61)

Pas ngelanjutin baca ini lagi, ada murid yang mau pinjem. Akhirnya saya ngalah. Padahal murid ini paling ogah kalo pinjem buku fiksi Indonesia, pasti nyarinya fiksi terjemahan. Kurang nendang kalo fiksi Indonesia, begitu alasannya. Dua hari kemudian di mengembalikan buku ini dan bilang: “Nah, buku tuh harsunya kayak gini. Gak cuma cinta melulu!

Membaca buku ini mengingatkan Tetralogi Buru-nya Pramoedya A. Toer dan Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. Bercerita cinta dan diselingi konflik politik di zamannya yang tidak hanya sarat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia tetapi juga menguak industri kretek di Indonesia. Sungguh perpaduan yang ciamik dan pasti membutuhkan riset yang mendalam.

Ada banyak pengetahuan yang kita dapatkan seputar kretek:

  1. Sebuah produk kretek akan dikenal pertama kali lewat selubung kemasan yang mentereng, atau setidaknya etiket yang ditempelkan ke bungkus kertas. (hlm. 62)
  2. Kretek  awalnya dikenal sebagai obat asma, dengan adanya cengkeh yang terkandung didalamnya. (hlm. 63)
  3. Kretek menjadi barang yang mewah ketika dipenjara. Bukan hanya masalah benda itu bisa menjadi alat pembayaran dadakan yang bisa dibarterkan dengan benda-benda lain yang mungkin dibutuhkan dan dimiliki oleh orang lain. Tetapi juga, menghisap kretek sejenak bisa membawa pikiran pulang ke rumah.. (hlm. 91)
  4. Teh atau kopi memang teman sejalan yang setia dipadukan dengan kretek. Tetapi untuk menentukan jodoh yang tepat, apakah the atau kopi yang harus disruput, maka harus melihat matahari. Jika matahari di Timur, maka kopi lebih tepat dipadukan dengan kretek. Tetapi jika matahari di Barat, teh lah yang berjodoh dengan kretek. (hlm. 128)
  5. Industri kretek di Kudus menyerap lebih dari 100.000 buruh. Itu berarti menjadi tumpuan penghasilan hampir 2/3 penduduk Kabupaten Kudus. (hlm. 166)
  6. Dulu, di Kudus ada Pak Haji Jamari. Dia hidup tahun 1980-an. Suatu hari lelaki itu sesak napas, dan mencari cara memasukkan woor (cengkeh) ke paru-parunya. Dia pun merajang cengkeh dan mencampurkannya dengan tembakau rajang yang lalu dilinting dengan klobot. Ketika api menyulut dan menghabiskan batang lintingan itu, terdengar suara kretek-kretek akibat terbakarnya cengkeh rajangan. Itulah asal mula kretek. (hlm. 179)

Sumber:
Menampilkan 1 hingga 1 (dari 1 item)