Sudah lama saya tidak menyentuh genre Metropop karena pada dasarnya Metropop sendiri bukan selera saya, namun sesekali saya membaca Metropop bila ingin bacaan ringan. Salah satu alasan saya membeli buku ini karena beberapa nama tenar dari penulis Metropop yang ada disampulnya, seperti Ilana Tan yang terkenal dengan tetralogi musim-nya, lalu Ika Natassa, Aliazalea, dll. Dan walau tenar, saya belum kesampaian membaca karya mereka, hanya Ika Natassa saja yang saya punya bukunya, tapi itupun belum sempat saya baca. 
 
Dan saya cukup penasaran ingin mengetahui gaya menulis beberapa penulis populer tersebut, tapi kalau harus baca 1 buku ada kecenderungan ogah karena harus menambah lagi daftar timbunan yang sudah menggunung. Karena itu saat keluar buku kumpulan cerpennya, tanpa ragu saya pun membelinya untuk sekedar memuaskan sedikit rasa penasaran saya akan gaya menulis mereka.
 
Dan inilah pendapat saya (yang jelas subyektif) akan ke-13 cerpen tersebut:

1. Be Careful What You Wish For oleh Aliazalea
Serba nanggung, sepi dan nggak jelas. Tapi utamanya yang saya tangkap dari cerpen pembuka ini adalah misteri (tenang, bukan misteri yang seram kok) yang tidak terselesaikan. Cerpen ini sekedar tell us something happened bukan yang awal-masalah-solusi. Saya seperti merasa cerpen ini sekedar filler doang. 
Sorry, I don't like it. 
 
2. Thirty Something oleh Anastasia Aemilia.
Again, this is another "tell us something happened" short story rather than beginning-conflict-solution. Ceritanya juga forgettable untuk saya, begitu pula karakter-karakternya. Mungkin karena diletakkan di urutan kedua, saat saya selesai membaca buku ini, saya lupa sama cerita ini. Lagi-lagi cerita yang kentang (kena tanggung).
Sorry, I don't like it. 
 
3. Stuck With You oleh Christina Juzwar.
Cerpen yang ini lebih rapi karena ada awal-masalah-solusi.  Temanya masih sama dengan 2 cerpen sebelumnya, seputar cowok dan galau bagi lajang perempuan. Tapi mungkin karena temanya terlalu sering, terlalu umum, terlalu klise dan eksekusinya juga standar saja, jadinya saya keburu bosan saat membaca lagi-lagi tema "cowok dan galau bagi lajang perempuan". 
Sorry, I don't like it. 
 
4. Jack Daniel's vs Orange Juice oleh Harriska Adiati.
Nah sedikit penyegaran saat masuk ke cerpen ke-4 karena tokoh utamanya bukan cewek tapi cowok. Tema utamanya tentang pedekate. Tapi mungkin karena intinya masih nggak jauh-jauh dari galau dan karakter-karakternya juga biasa saja alias tipikal cowok-cowok Metropolis, saya pun cenderung lupa sama ceritanya. 
Sorry, I don't like it. 
 
5. Tak Ada Yang Mencintaimu Seperti Aku oleh Hetih Rusli. 
Salah satu cerpen yang masuk kategori tell us something happened. Sebenarnya cerpen ini berpotensi untuk menjadi psikologis thriller macam cerpen-cerpen di Malaikat Jatuh-nya Clara Ng. Apalagi sudut pandangnya banyak menggunakan sudut pandang orang ketiga yang membuat penulis lebih leluasa mengeksplorasi. Sayang cerpen dengan tema "penguntit" ini kurang panjang ditulis oleh pengarang dan jatuhnya cuma "githu doank".
Sorry, I don't like it. 
 
6. Critical Eleven oleh Ika Natassa.
Sebenarnya saya suka sama cerpen ini. Ada filosofi yang membuat penuturannya seperti sebuah personal literature. Tapi mungkin ini balik ke masalah selera. Saya tidak suka bahasa gado-gado. Saya akui, saya sendiri juga suka mencampur bahasa Inggris saat mereview. Tapi porsinya antara Indonesia dan Inggris yang saya gunakan masih 80:20, masih sebatas selingan. Sementara gaya bahasa Ika seperti gado-gado karena bahasa Indoensia dan Inggris porsinya cukup imbang. Jadi dalam 1 paragraf ada yang kalimat pertama bahasa Indonesia lalu kalimat berikutnya bahasa Inggris dan bahkan ada 1 kalimat yang terdiri atas bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 
Actually, I quite like it, but that mixed language not my cup of tea, sorry.


7. Autumn Once More oleh Ilana Tan.
Cerpen yang  menjadi judul utama dari buku ini, karena itu tidak salah jika saya berharap lebih dari cerpen ini. Sayangnya lagi-lagi ini salah satu cerpen yang masuk kategori tell us something happened. Tambah lagi saya tidak suka sama karakter ceweknya, Tara yang pemaksa alias egois, cerpen ini masih berhubungan dengan salah satu tetralogi musim-nya Ilana Tan. Memang gaya bahasa Ilana cenderung rapih dan baku, lebih mirip terjemahan daripada fiksi-fiksi metropop pada umumnya yang gaya bahasanya sehari-hari. Tapi  entah mengapa saya merasa bosan membaca cerpen ini.
Sorry, I don't like it. 

8. Her Footprints on His Heart  oleh Lea Agustina Citra.
Sepertinya mulai dari no. 8 dan seterusnya, cerpen-cerpennya sudah mempunyai pola yang lebih runut (awal-masalah-solusi) daripada sekedar memberitahu pembaca mengenai suatu kisah yang sedang berlangsung. Tema utama cerita ini mengenai rasa percaya dan mantan pacar. Saya rasa temanya akan lebih mellow dan emosional seandainya kedua tokoh sudah resmi menjadi suami-istri. Terlepas dari tema yang klise, saya tidak ada celaan untuk cerpen ini karena menurut saya sudah oke. 
I quite like it.

9. Love is a Verb oleh Meilia Kusumadewi.
Saya juga tidak ada celaan untuk cerpen bertema salah paham dalam hubungan ini, saya suka cerpen ini karena tokoh-tokohnya terasa manusiawi. Mungkin satu-satunya kritik adalah saya mulai bosan akan tema cinta dan galau melulu, yang tentu saja masalahnya ada di selera saya. 
I quite like it. 

10. Perkara Bulu Mata oleh Nina Addison.
Dari semua cerpen di buku ini, saya rasa cerpen ini paling kental unsur komedinya. Tema dari temen jadi demen sepertinya tak pernah basi sampai kapanpun. Cerpen ini sedikit mengingatkan saya sama Marriageable-nya Riri Sarjono, karena unsur persahabatan ala Friends atau How I Meet Your Mother. Saya suka multiple POV-nya karena membuat cerita jadi ramai.
I like it. 

11. The Unexpected Surprise oleh Nina Andiana.
Akhirnya, setelah  10 cerpen bergenre romens, cerpen ke-11 ini lain sendiri. Mengambil unsur hubungan dalam keluarga membuat saya cepat nyambung dengan temanya. Adegannya sederhana sih tapi sangat membumi. 
I like it. 

12. Senja Yang Sempurna oleh Rosi L. Simamora. 
Saat membaca paragraf pertama, saya cuma mengerang dalam hati, sepertinya ini akan menjadi cerpen yang not my cup of tea alias bukan selera saya. Dan itu bukan karena isi ceritanya, tapi lebih karena narasinya yang terlalu puitis atau gaya bahasanya yang terlalu berbunga-bunga atau diksinya yang terlalu banyak bermain kata-kata metafora. Entahlah, saya agak lelah membaca yang seperti itu, padahal cerita yang mau disampaikan sederhana saja. 
Sorry, I don't like it. 

13. Cinta 2 x 24 Jam oleh Shandy Tan
Cerpen terakhir ini tergolong singkat, sesuai judulnya yang seperti cinta singkat. Yang bikin saya terkejut bukan karakter cowonya yang ternyata ah saya rasa beberapa pembaca mungkin sudah bisa menebak sejak awal, yang bikin saya terkejut adalah POVnya. 
I quite like it. 

Saya rasa secara keseluruhan buku ini cukup oke, karena itu saya menyematkan 3 bintang. Namun jujur saya termasuk lambat baca buku tipis dan ringan ini karena saya merasa agak bosan saat membacanya. Selain itu tidak ada karakter-karakter yang menonjol dan plot ceritanya juga tipikal. Ah mungkin karena romance bukanlah selera saya. 

Cover
Covernya cukup bagus, hanya saja karena sampul kartonnya tidak penuh maka berpotensi membuat  kertas kuning di halaman pertama buku menjadi lecek atau tertekuk.
 


Sumber:

Covernya rupawan, itu jelas. Judulnya mengundang, memang. Ilustrasi dalamnya pun cantik. Nama-nama kontributornya, dan tentu saja konten, faktor utama yang membuat saya betah membaca sampai rampung. Seperti apa para editor menulis, misalnya. Di sinilah kesempatan menikmati kisah romansa pedih karya Mbak Hetih Rusli, untaian kalimat mengharu-biru ala Mbak Rosi L. Simamora (penerjemah trilogi Warna-nya Kim Dong Hwa), juga karakter kekasih yang “selalu ingin tahu” bersematkan tren Instagram yang disuguhkan Meilia Kusumadewi (penerjemah novel grafis Sepeda Merah).

Poin keren buku ini adalah cerpen-cerpen beralur cepat. Kalimat pembukanya penuh energi, membetot dan langsung mengalir. Sependek pengamatan saya, begitulah ciri khas metropop. Genre yang memberi ruang bagi pembaca usia dewasa muda hingga dewasa dengan bauran problematika sehingga terasa realistis. Cerita-cerita dunia kerja, contohnya, membuat saya teringat sejumlah film komedi romantis dan novel metropop yang pernah saya baca.

 

Berikut ini yang saya favoritkan, bukan berdasarkan urutan:

1. Critical Eleven (Ika Natassa)

Judulnya mengingatkan saya pada film thriller atau laga. Kendati cerpen ini sarat kalimat berbahasa Inggris, keasyikan membaca tidak berkurang. Temponya berderap. Dialog-dialognya mengesankan, antara lain:

Terkadang aku justru rindu perasaan bosan, Le.

 

(hal. 91)

 

Di tempat yang paling seru sekalipun, kita pasti punya batas kebetahan di situ.

 

(hal. 92)

 

Hati itu bisa disetel kayak AC, Nya. Kalau dulu lo terlalu cepat hangat sama orang -bukan berarti setelah lo pernah sakit dan setelah gue bilang jangan terlalu cepat pakai hati-AC hati lo itu langsung lo turunin serendah-rendahnya. Lo tuh udah kayak freezer sekarang.

 

(hal. 96)

… lamanya satu menit itu berbeda bagi orang yang sedang sesak napas kena serangan asma dengan yang sedang dimabuk cinta.

 

(hal. 97)

 

2. Perkara Bulu Mata (Nina Addison)

Ini salah satu cerpen berbintang lima. Judulnya keren, sampai kalimat penutupnya juga istimewa. Saya tidak bingung meski memakai POV beberapa orang dan sadar bahwa cinta bisa berawal dari hal yang sangat “remeh”. Penghayatan dan perwatakannya jempolan.

 

3. The Unexpected Surprise (Nina Andiana)

Tema yang diangkat relatif berbeda, cinta kasih dalam drama keluarga. Adegan-adegannya seperti hidup di pikiran saya. Dengan rentang waktu relatif pendek selaku latarnya, alur yang jauh dari lambat apalagi menjemukan, jadilah cerpen yang segar.

 

Selebihnya bagus-bagus juga, dengan cara tersendiri. Ada yang mengemas kejutan, ada yang meluncur ringan, ada yang puitis melankolis, ada yang memakai sudut pandang lelaki dan membuat saya tergelak-gelak.

Gue heran, kenapa cewek suka banget ngasih pilihan-pilihan nggak masuk akal. Pilih lembur atau nge-date? Pilih dia atau rokok? Lha, buat bayar nge-date di restoran pakai dui apa kalau nggak pakai honor lembur? Dan kenapa cewek suka merendahkan diri ke harga sebelas ribu sebungkus?

(Jack Daniel’s vs Orange Juice – Harriska Adiati, hal. 62)

Kalau kata seorang teman baik, ini namanya, “A very jleb quote.”

Setiap cerita mengandung keakraban, mudah menikmatinya. Kadang ada sisi diri saya sendiri dalam beberapa karakter. Belum lagi beberapa judul yang “mencorong” sehingga terbukti cerita cinta bisa diolah sejeli mungkin dan tidak begitu-begitu saja. Terus terang, biodata singkat penulis pun tidak saya lewatkan karena suka pilihan informasi dan cara menuturkannya.

Menarik sekali bila ada konsep kumcer seperti ini lagi.


Sumber:
Menampilkan 0 hingga 0 (dari 0 item)
Tidak Ada Resensi
Menampilkan 0 hingga 0 (dari 0 item)