Selalu, yang baru akan terlihat lebih baik daripada yang lama. (hlm. 68)

Problemnya bukan mencari orang yang lebih baru, tetapi untuk memperjuangkan yang nyaman. (hlm. 68)

 

Ini adalah buku ketujuh yang dilahirkan seorang Raditya Dika. Jadi, saya mau cerita dulu tentang perjuangan dapetin buku bercover dengan dominasi warna tosca ini. Waktu itu ada PO di sebuah toko buku online. Udah jauh-jauh hari nginget tanggalnya. Kalo nggak salah pas 15 Desember 2014 pukul 00.00 WIB. Nah, kebetulan ada hajatan tempat saudara di tanggal 14 Desember 2014. Jadilah saya yang biasanya tidur jam 12-an, malam itu akibat kelelahan karena seharian di tempat saudara, jam 10 malem mata udah lima watt. Waktu itu mikirnya gini, nanti online sambil nunggu subuh. Ternyata saat saya online pas subuh, buku sebanyak 1000 eksemplar ini udah sold out. Padahal itu udah ditambah menjadi 2100 eksemplar. Byuh…beli buku kayak beli pecel, musti rebutan gini ya. Saya ampe nggak kepikir kalo Raditya Dika ini kan jumlah followersnya sampe sembilan juta-an followers, jelas aja buku 2100 eksemplar tandas hanya dalam beberapa jam aja. Yang sempet bikin nyesek waktu itu adalah saya udah terlanjur berjanji ama murid-murid unyu di sekolah kalo nanti dapet buku yang edisi PO, hadiah kaosnya bakal dijadiin kuis buat mereka di perpustakaan. Apalah daya, rencana tinggal rencana. Akhirnya cuma beli lima eksemplar aja. Padahal niatnya mau beli sepuluh eksemplar dengan bayangan kaosnya bisa buat murid-murid unyu :’)

 

Begitu bukunya saya upload di twitter dan facebook, murid-murid unyu pun pada rebutan minjem. Itu pun pake ada acara ngambek ama pustakawannya ini. Alhasil, buku yang untuk koleksi pribadi, begitu selesai dibaca langsung saya kasih pinjam buat murid unyu. Ampe lupa kalo buku ini belum di review. Eh, ternyata malah bukunya digilir ke murid yang lain. Begitu pula dengan empat eksemplar  lainnya yang jadi koleksi perpus pun nggak pernah mejeng di rak, begitu di barcode langsung lenyap di pinjem. Sampe sekarang pun belum nganggur. Alhasil bacanya dari awal Januari, baru bisa nulis reviewnya sekarang nunggu bukunya nganggur satu, mudah-mudahan isinya nggak lupa :’) #IniReviewMalahKebanyakanCurcol

Buku ini terdiri dari dua belas BAB. Saya nggak mau spoiler membedah satu per satu isi tiap BAB. Ada beberapa BAB Favorit. Pertama; Perempuan Tanpa Nama. Banyak laki-laki dalam perjalanan hidupnya tidak sengaja bertemu dengan perempuan menarik tapi nggak berani ngajak kenalan. Perempuan itu pun pergi berlalu. Pernah mengalaminya? Setiap orang sepertinya pernah mengalami hal ini. Ada saat di mana kita menemukan seseorang hanya sekilas atau selintas tapi terkadang justru membekas di hati. Saya banget nih yang beginian, sering banget suka ama seseorang padahal ketemunya cuma sehari dua hari. Beberapa yang membekas; seorang cowok di sebuah acara besar di Jakarta tentang sekumpulan komunitas baca pas jaman kuliah, cowok ini tipikal cowok idaman saya banget; peduli literasi, dunia baca dan tergabung di sebuah komunitas dengan membawa nama daerahnya. Sayangnya abis acara seminggu itu nggak pernah ketemu lagi. Yang kedua, sama halnya dengan cerita sebelumnya dengan seseorang yang awalnya juga nggak kenal sama sekali. Ketemunya gegara skripsi. Jadi gegara teori skripsi yang kita pakai sama, jadilah saling kontak meski tema skripsi yang kita angkat berbeda. Berawal dari situ jadi nyambung tiap komunikasi. Kita beda provinsi. Lagi-lagi terhalang jarak, abis beres skripsi, ya beres juga komunikasi kita. Nah, bagaimana ceritamu? :D

Pilihan BAB favorit kedua; Lebih Seram Dari Jurit Malam. Ini berkisah pengalaman tentang Raditya Dika yang ikut ekstrakurikuler PMR jaman SMP. Ini lagi-lagi mirip saya banget, bedanya saya melalui hari-hari ikut eskul PMR pas jaman SMA. Pokoknya cinta mati ama eskul ini meski seniornya galak-galak pake banget. Tapi justru dari eskul inilah mental & kepribadian jaman sekolah mulai terbentuk. Di BAB ini ada temannya si penulis yang bernama Nikolas. Ada, ada banget anak sekolah macam dia ini. Dari jaman saya sekolah sampe sekarang kerja di sekolah ada banget cowok sok senior kayak Nikolas ini yang nantinya kena batunya sendiri x)

Patah Hati Terhebat adalah BAB favorit ketiga. Meski saya belum pernah mengalami setragis kisah Trisna dalam BAB ini, tapi kisah di BAB ini benar-benar menyentuh. Seseorang yang pernah sangat mencintai seseorang, harus siap menanggung resiko mengalami patah hati yang terhebat. #JLEBB

Ada juga beberapa cerita yang mirip-mirip ama kisah yang pernah saya alami. Misalnya di halaman 200 tentang bagaimana kita saat lulus SMA memilih kampus bahkan Jurusan yang sama dengan gebetan meski tanpa kita sadari belum tentu pilihan itu cocok dengan kita. Dulu, saking galaunya mau kuliah jurusan apa, sempat kepikiran mau ambil jurusan yang sama dengan jurusan yang dipilih kakak kelas jaman SMA. Untung nggak sampe terjerumus ke hal itu, hingga saat penerimaan formulir menemukan jurusan yang tepat dan sangat sesuai passion. Ada juga di halaman 236 tentang pas pacaran royal banget ngasih barang, giliran putus semuanya minta dibalikin. Kalo yang ini alhamdulillah saya nggak pernah mengalaminya, hanya jadi mengingatkan saudara pernah mengalami hal ini. Jadi, dia udah tunangan. Ngerasa nggak cocok, dia minta putus. Ya wajar sih kalo cincin tunangannya dibalikin, lha ini semua barang yang pernah dikasih minta dibalikin bahkan sampe parfum yang udah dipake pun minta dibalikin. Omaygad, kok ada ya orang macam ini? Untung deh saudara nggak jadi nikah ama dia, kebayang kalo jadi, semua hal bakal dibuat perhitungan x)

Banyak kalimat favorit bertebaran dalam buku ini:

  1. Orang yang lagi kasmaran memang cenderung melakukan hal di luar kebiasaannya, demi cinta yang dia kejar. (hlm. 53)
  2. Selalu, yang baru akan terlihat lebih baik daripada yang lama. (hlm. 68)
  3. Cinta memang butuh perjuangan. (hlm. 77)
  4. Janganlah menyerah dalam mencari jodoh kalian. Pikirkan baik-baik: jangan-jangan jodoh kamu adalah orang yang selama ini ada di dekat kamu sendiri. (hlm. 78)
  5. Banyak laki-laki dalam perjalanan hidupnya tidak sengaja bertemu dengan perempuan menarik tapi nggak berani ngajak kenalan. (hlm. 117)
  6. Orang yang jatuh cinta terkadang berharap pada hal yang tidak pasti. (hlm. 122)
  7. Kita harus baik sama orang yang kerja bareng sama kita. Kalau enggak, ya, jangan marah kalau dibales. (hlm. 156)
  8. Kepribadian seseorang bisa dinilai dari ektrakurikuler yang mereka ambil di sekolah. (hlm. 161)
  9. Kalau lo nggak mau dikerjain jangan pernah ngerjain orang. (hlm. 184)
  10. Semua orang pernah patah hati. (hlm. 184)
  11. Masak itu kayak cinta, lo salah nyampur bahan makanan dikit, pasti asin rasanya. (hlm. 187)
  12. Cinta itu ternyata menjadi faktor motivasi paling mujarab. (hlm. 201)
  13. Orang setelah mengalami patah hati hebat akan berubah. (hlm. 207)
  14. Kita akan selama-lamanya jadi orang yang lain, gara-gara satu patah hati kampret dalam hidup kita. Kecuali ada mantra sihir Harry Potter yang bisa membuat kita lupa itu semua. (hlm. 208)
  15. Nggak ada umur yang terlalu muda, kan? (hlm. 218)
  16. Tidak semua yang tidak bisa dilihat bisa membuat kita celaka. (hlm. 224)
  17. Kalo nggak patah hati, gak belajar kali. (hlm. 235)
  18. Beberapa luka bisa sembuh dengan baik seiring berjalannya waktu. (hlm. 242)

Banyak juga kalimat sindiran dalam buku ini:

  1. Kau bisa jadi bodoh maen game terus. (hlm. 2)
  2. Mana ada anak cowok main layangan pake sunblock? Cemen banget! (hlm. 3)
  3. Kenapa, sih, cowok suka banget nonton bola? (hlm. 46)
  4. Kenapa cewek kalo ke kamar mandi selalu minta ditemenin sama temen ceweknya? (hlm. 47)
  5. Ini kan perasaan, bukan kucing piaraan, masa hilang. (hlm. 66)
  6. Putus cinta membuat kita malas ngapa-ngapain. (hlm. 66)
  7. Semua orang tahu pertemuan dengan mantan pacar sangat berpotensi menghasilkan galau. (hlm. 79)
  8. Zaman kayak gini baik aja nggak cukup. (hlm. 126)
  9. Jodoh itu ada yang ngatur. Siapa tahu itu jodo lo? Udah, ajak ngomong aja. Gak ada salahnya, kok. (hlm. 132)
  10. Orang mabuk emang nggak bisa diajakin ngobrol. (hlm. 159)
  11. Dunia tidak akan kehilangan orang bodoh. (hlm. 175)
  12. Problem klasik cewek-cewek SMP: naksir cowok tapi cowoknya gak nyadar. Mereka Cuma bisa nyuri pandang, tapi begitu dilirik balik langsung mimisan tiga ember. (hlm. 182)
  13. Susahnya kalau jatuh cinta diam-diam, soalnya kita akan selamanya cuman ngebaca tanda-tanda yang nggak jelas. (hlm. 183)
  14. Suatu tempat baru bisa jadi istimewa kalau tetap jadi baru. Kalau udah lama, jadinya biasa aja. (hlm. 206)
  15. Pacaran jarak jauh memang menjadi momok. Cinta kita terhalang jarak, dan komunikasi jadi penting. (hlm. 215)
  16. Mengundang mantan pacar ke pernikahan kita memang tidak dianjurkan. (hlm. 231)

Masih menemukan beberapa typo:

  1. Keliahtan (hlm. 44) – seharusnya kelihatan
  2. Tentang Astra di halaman 66, harusnya Dika putus ama Deska. Ini kenapa malah putusnya ama Astra yang lagi deket ama Deska? X)
  3.  Di halaman 146. Disebutkan jika di minggu pertama, ‘Malam Minggu Miko’ ditonton tiga ratus ribu kali, terus kenapa kalimat selanjutnya malah jadi rancu, soalnya disebutkan jika minggu kedua ditonton tujuh ratus kali. Bukankah seharusnya minggu kedua, viewers lebih banyak dari minggu pertama ya? Atau mungkin itu manksudnya minggu kedua ditonton tujuh ratus ribu kali, bukan tujuh ratus kali.

Sama halnya dengan judul-judul sebelumnya, judul Koala Kumal ini juga memiliki arti semiotika. Koala kumal ibarat kita sebagai manusia dari masa ke masa. Ketika koala bermigrasi dari hutan tempat tinggalnya, dia merasa asing ketika kembali. Seperti halnya kita ketika menjalin hubungan dengan seseorang. Dulu bisa jatuh cinta menggebu-gebu, cemburu dan patah hati, ketika bertahun-tahun kemudian bertemu kembali rasanya sudah beda. Begitulah hidup.


Sumber:
Menampilkan 0 hingga 0 (dari 0 item)
Tidak Ada Resensi
Menampilkan 0 hingga 0 (dari 0 item)