Blurb

Mereka bilang hubungan di atas tempat tidur dan cinta itu dua hal yang berbeda. Katanya lagi hubungan intim bisa dilakukan dengan ataupun tanpa cinta.
Dengan cinta? Bullshits...!

Cinta itu hanya ada di cerita dongeng belaka, setidaknya itu yang kupercaya sampai aku bertemu dengannya....

Mungkin pertemuan kami diawali dengan cara yang salah dan mungkin juga pada dasarnya dua orang yang sama – sama terluka tidak seharusnya bersama.

Pada akhirnya kami harus mengakui kalau kami adalah dua orang yang salah untuk satu sama lain.

-Ayu-

* * * * * 
“…sesuatu yang diawali dengan tidak baik, akan selalu berakhir tidak baik” (hal. 179)
 
Pertemuan pertama Ayu dan Benny yang terbilang tidak biasa menjadikan mereka sebagai ‘partner di ranjang’. Ayu selalu datang ke apartemen bernomor 1109 setiap malamnya  dan melakukan apa yang semestinya ia lakukan (hal. 4). Interaksi diantara Ayu dan Benny pun hanya terjadi diatas tempat tidur dan bahkan mereka tidak tahu nama satu sama lain.

“mungkin ketidaktahuan itu adalah jalan terbaik sebagai pengingat bahwa kami pada dasarnya adalah orang asing bagi satu sama lain” (hal. 9).
 
Seiring berjalannya waktu ada perasaan yang mulai tumbuh diantara keduanya namun luka di masa lalu menjadi penghambat bagi hubungan mereka. Ditambah kedatangan orang-orang dari masa lalu semakin membuka kembali luka lama yang berusaha ditutup rapat oleh keduanya.  
 
“Bagaimanapun aku harus menerima kenyataan kalau semua kenyamanan ini akan berakhir baik saat aku siap maupun tidak siap akan hal itu” (hal. 133)
 
Akan seperti apa kelanjutan hubungan Ayu dan Benny? Apakah akan berakhir dengan happily ever after atau memang dua orang yang terluka tidak ditakdirkan bersama? 
 
“Mungkin pertemuan kita diawali dengan cara yang salah dan mungkin juga pada dasarnya dua orang yang sama-sama terluka tidak seharusnya bersama” (hal.183)

* * * * *
 
Pertama kali saya membaca novel ini ketika masih ditulis di wattpad dengan judul Sleep With Me Tonight. Pada saat itu cerita yang ditulis sudah lebih dari setengah jalan cerita jadi ketika saya membeli versi cetaknya, yang pertama saya lakukan adalah melihat halaman paling akhir alias endingnya.  :D
 
Novel ini diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama yang dibagi dalam dua bagian. Pada bagian awal kita akan dibawa merasakan pergulatan batin dari sisi Ayu dan pada bagian kedua kita akan dibawa merasakan penderitaan dan juga depresi yang dirasakan Benny.
 
Dan menurut saya, penulis berhasil membawa pembaca [saya] untuk bisa merasakan apa yang Ayu dan Benny rasakan. Terutama dari sudut pandang Benny, meskipun pemaparannya tidak sebanyak Ayu tapi saya bisa merasakan betapa menderita dan depresinya Benny saat itu.
 
“…aku rela menjadi gila jika bisa membuatnya muncul meski hanya dalam halusinasiku” (hal. 262) 
 
Meski novel ini dikategorikan sebagai novel dewasa namun tidak ada adegan-adegan yang membutuhkan kipas atau air dingin saat membacanya… :D.  Meski begitu, didalam novel ini tetap banyak terdapat kalimat-kalimat  yang bisa membuat kita membayangkan hal yang iya-iya jadi memang perlu sikap yang bijak saat membacanya... :D
 
Cover novelnya sendiri juga sangat eye catching. Menurut saya pemandangan gedung-gedung tinggi di kota pada malam hari yang ada pada cover seperti menggambarkan bagaimana ‘kehidupan malam’ yang dijalani Ayu.
 
Sebagai novel debut, ini adalah pembuka yang sangat bagus. Sukses terus untuk novelnya dan saya tunggu karya mbak Sofi berikutnya :)

Sumber:

Mungkin pada dasarnya dua orang yang sama-sama terluka tidak seharusnya bersama. (hlm. 183)

 

Adalah AYU, perempuan dewasa yang memiliki banyak beban dalam hidupnya. Pengalaman pahit dalam hidup banyak mempengaruhi kepribadiannya dalam menyikapi kenyataan hidup. Dulu diia hanya tinggal bersama ibunya, masalah timbul ketika ibunya menikah, kemudian dia memiliki ayah yang kemudian akan sangat dibencinya suatu hari nanti.

“Kamu keterlaluan, Yu. Kalau kamu tidak suka dengan rumah ini, tidak ada yang memaksamu untuk tinggal. Kamu boleh pergi.”

“Cinta membuat ibu gila. Cukup gila sampai melupakan banyak hal penting dalam hidup ini.” (hlm. 127)

Permasalahan tidak berhenti sampai di situ saja. Ibunya yang sakit-sakitan butuh dana besar untuk mengobati penyakitnya. Uang yang ia kumpulkan selalu sia-sia, karena kerap dijarah ayah tirinya itu. Jalan pintas pun ia lakukan.

Ada dua alasan kenapa seseorang memilih menjadi perempuan panggilan. Pertama, karena kebutuhan gaya hidup. Dan kedua adalah karena tuntutan ekonomi yang menjepit. Ayu masuk kategori kedua.

Ayu yang awalnya terjebak pun kian terperosok. Tamu langganannya adalah seorang pria dewasa muda yang mapan, penghuni apartemen 1109. Setiap malam dia ke apartemen tersebut untuk memenuhi panggilan tugas setiap jam sepuluh malam. Ayu tidak mengenal sama sekali tamunya itu. Bahakan namanya pun tidak dia ketahui. Begitu tugasnya selesai, dia langsung pulang, selalu begitu. Ibunya yang tidak tahu dengan profesinya itu selalu menunggunya jika terlambat pulang.

“Kamu adalah salah satu wanita misterius yang pernah kukenal.”

“Menjadi misterius itu memang jauh menguntungkan.”

“Karena?”

“Karena jika aku pergi suatu hari nanti, kamu tidak akan bisa menemukanku.” (hlm. 62)

BAB Pertama judulnya adalah ‘Kancing yang Terlepas’. Oh, untung aja bacanya malam dan pas dapet ‘jatah libur’ puasa, jadi aman bacanya, karena ada beberapa bumbu gingko biloba di selipan ceritanya, gyahahaha… Meski begitu, deskripsi gingko biloba yang dijabarkan masih dalam takaran wajar kok, belum sampe bikin panas dingin pas bacanya… x))

“Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bahas.”

“Kamu tidak berubah, Yu…”

“Kamu selalu memaksakan dirimu untuk berjuang sendiri.” (hlm. 120)

“Masalahnya aku tidak tahu kalau memang ada jalan kembali untukku, Ditt.”

“Bukan itu masalah utamanya. Pertanyaannya adalah apakah kamu punya niat untuk mengakhiri semua ini.”

“Dan kembali menjadi Ayu yang dulu?”

“Menjadi Ayu dengan hidup yang baru, yang lebih baik.”

“Andai mengubah semuanya semudah yang kamu ucapkan.”

“Kamu tidak akan pernah tahu sebelum mencoba kan?” (hlm. 143)

Membaca kisah Ayu, seolah kita terhanyut akan kehidupan pahit yang dialami olehnya. Satu per satu rahasia terkuak di tiap BAB. Oya, di beberapa BAB terakhir ada jatah porsi dar sisi Benny. Setiap orang pasti memiliki masa lalu. Tidak hanya dari sisi Ayu, Benny juga mempunyai sisi kelam dalam hidupnya.

Mulanya saya sebal dengan tokoh Benny yang kelakuannya terkesan menjadikan Ayu hanya sebagai salah satu pajangan di apartemennya. Lama-lama tokoh Benny ini memang bikin meleleh. Salah satunya adalah saat Benny yang tampak panik ketika Ayu sakit karena sedang ‘kedatangan tamu bulanan’. Saking bingungnya, Benny membeli semua jenis pembalut bahkan ada beberapa jenis panty liner x))

BAB 15 yang berjudul ‘Hujan dan Perasaan’ ini favorit banget. Apalagi di halaman 103, bisa merasakan kesedihan yang dialami Ayu :’) #PukPukAyu

Kemudian di BAB 23 yang berlokasi di Taman Bermain dengan judul ‘Pernyataan yang Terucap’ merupakan bagian paling menyenangkan dibandingkan BAB-BAB lain. Di BAB ini menampilkan sisi bahagia yang dialami para tokohnya. Tapi di halaman 170 pengen #PukPukAyuLagi :’)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Semua orang pasti punya masalahnya sendiri. (hlm. 34)
  2. Pikirkan apa yang mau kamu pikirkan. (hlm. 64)
  3. Pilihan itu selalu ada. (hlm. 85)
  4. Semua orang punya hak untuk bermimpi. (hlm. 86)
  5. Sesorang bisa berubah menjadi orang yang jauh berbeda. (hlm. 122)
  6. Kamu tidak akan pernah tahu sebelum mencoba kan? (hlm. 143)
  7. Semua orang butuh waktu. (hlm. 158)

Ada juga beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Menjadi misterius itu memang lebih menguntungkan. (hlm. 62)
  2. Jangan banyak memikirkan hal tidak penting. (hlm. 65)
  3. Cara terbaik untuk melupakan hal buruk adalah menganggapnya sebagai mimpi yang tidak pernah terjadi. (hlm. 159)
  4. Terkadang salah satu alasan yang membuat kita membenci seseorang adalah karena kita terlalu menyayangi dan peduli akan orang itu. (hlm. 161)
  5. Akhirnya sesuatu yang diawali dengan tidak baik, akan selalu berakhir dengan tidak baik. (hlm. 179)

Pas baca ini sebenarnya ada satu hal yang menggelitik untuk dibahas. Adegan saat dimana Ayu kebingungan menebus biaya berobat ibunya yang membuat hatinya nggak karuan ketika membaca jumlah nominal yang harus dibayarnya.

Zaman sekarang, sakit dan berobat ke rumah sakit nggak sesusah dulu. Pengalaman tahun lalu ketika adik saya mengalami kecelakaan jatuh dari mobil, sempat kritis lima hari dan hampir dua mingguan di rawat di rumah sakit, alhamdulillah biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan dan selama rawat inap tidak berat. Sebenarnya sebelum kecelakaan, adik saya belum dimasukkan ke BPJS, baru saat setelah kecelakaan langsung didaftarkan. Petugasnya juga bilang, rata-rata 70% pendaftar BPJS baru bergerak setelah pasca kecelakaan yang menimpa. Prosesnya cepat. Hanya butuh KTP dan Kartu Keluarga. Karena waktu itu adalah hari Sabtu, pembayaran untuk pendaftaran bisa dilakukan via Bank dengan cara transfer. Alhamdulillah dari hari pertama dirawat sampai hari akhir, bahkan untuk proses scan untuk cek kondiri kepala, semua langsung di tanggung BPJS. Bayangkan biaya yang dikeluarkan tanpa BPJS, untuk scan cek kepala saja butuh dana sebesar dua juta sendiri.

Untuk kasus Ayu dan ibunya memang perlu dimaklumi kenapa mereka belum terdaftar di BPJS. Mungkin untuk biaya bulanannya, Ayu masih sanggup ikut untuk kelas tiga. Tapi yang menjadi kendala adalah riwayat hidup Ayu yang tampaknya pasti tidak mempunyai Kartu Keluarga. Zaman sekarang memang susah jika tidak memiliki Kartu Keluarga. Daftar sekolah aja sekarang kudu pake Kartu Keluarga :’)


Sumber:
Menampilkan 0 hingga 0 (dari 0 item)
Tidak Ada Resensi
Menampilkan 0 hingga 0 (dari 0 item)