Blurb

Tidak ada yang tahu luka batin yang disimpan Sam rapat-rapat. Hingga gadis itu memutuskan melarikan diri dari Indonesia dan memulai hidup baru dengan bekerja di perusahaan pengeboran minyak di ujung dunia, di Norwegia. Ketika harus pindah ke kantor pusat di Oslo, Sam menolak tinggal di apartemen dan menyewa rumah tua di Pulau Lindoeya.

Di Lindoeya, Sam bertemu dengan Rasmus Knudsvigsson, tetangga barunya. Meskipun diawali rasa takut dan curiga, perlahan ketulusan pria tampan bermata biru itu dapat mencairkan kebekuan hati Sam.

Namun, ketika Sam merasa sudah siap membuka hati sepenuhnya untuk Rasmus, salah satu anggota dewan yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Oslo menarik Sam kembali ke pusaran intrik masa lalu....

*****

“Luar Biasa. Betapa ketakutan membatasi diriku sendiri dan membuatku menjelek-jelekkan orang lain” – Sam- 

Putri  ‘Sam’ Samahita mendapat tawaran untuk bergabung dalam sebuah proyek di perusahaannya di ibukota Norwegia. Sam yang memang tidak suka dengan keramaian ibukota  lebih memilih untuk tinggal sementara di rumah Inga, sekertaris seniornya di kantor cabang Harstad di pulau sepi bernama Lindoya. Disanalah dia bertemu dengan ‘si mata stabilo’ Rasmus Knudsvigsson.  Sam yang memang tidak berniat untuk bersosialisasi pada awalnya tidak membiarkan Rasmus mengusik hidupnya , bahkan terang-terangan menunjukkan penolakannya terhadap Rasmus. Tapi, seiring berjalannya waktu dan kebersamaan yang mereka lalui, perasaan takut itupun sedikit demi sedikit berkurang berganti dengan rasa nyaman. Namun tiba-tiba masa lalu itu kembali datang meneror Sam dan membangkitkan kembali rasa takut yang mulai dikubur Sam dalam-dalam.  Sampai kapan terror dan rasa takut ini akan menghantui kehidupan Sam? Dan apa ini akan mempengaruhi hubungannya dengan Rasmus yang mulai menghangat?



”Kenapa masa lalu tidak mau berhenti menarikku kembali ke kubangan” (Hal. 235)
 
***** 
 

Novel ini saya peroleh dari Giveaway yang diadakan diblognya kak Sulis disini. Dan Ini kali pertama saya membaca karya penulis. Dari awal saya sudah memasukkan novel ini dalam wishlist saya karena kata ‘Lindoya’ yang sangat menarik perhatian. Saya tidak pernah mendengar ‘Lindoya’ sebelumnya dan dari novel ini lah, penulis mengajak pembaca [saya] untuk mengenal lebih dekat Lindoya.

Cerita ini ditulis dengan menggunakan POV tiga. Dibuka dengan kisah Sam yang pertama kali datang ke Lindoya untuk  tinggal sementara di pulau kecil itu dan bertemu dengan Rasmus tetangganya yang pada pertemuan awal saja mampu menghipnotis Sam dengan sorot matanya  yang kuat, berpendar, dan begitu transparan sebiru spidol Boss yang sering ia gunakan di kantornya (Hal.12). Karena itulah Sam menjulukinya ‘Si Mata Spidol’. 

Di novel ini penulis menggunakan dua alur, yaitu alur maju dan alur flashback. Diawal-awal cerita kita akan diajak mengenal karakter Sam dan Rasmus serta interaksi diantara keduanya lalu diselingi dengan flashback mengenai masa lalu Sam dan apa yang membuatnya sampai menjadi seorang yang tertutup. Dengan menggunakan alur ini, penulis mengajak pembaca untuk mengetahui sedikit demi sedikit rahasia yang coba dikubur Sam dalam-dalam.  




“Aku pikir persentasi orang yang hidupnya sukses terus, jauh lebih kecil daripada orang yang punya luka masa lalu. Itu yang membuat kita kuat, kan?” (Hal. 184)

Penyajian settingnya juga sangat menarik. Setiap suasana dan tempat dituturkan dengan sangat rinci oleh penulis. Ditambah penulis yang memang pernah mengunjungi tempat-tempat yang ada dibuku ini, semakin memudahkan pembaca untuk bisa membayangkannya. Bahkan di blog penulis juga disertakan beberapa gambar yang menginspirasinya dalam membuat setting tempat. Dijamin setelah melihatnya kamu akan semakin ingin pergi ke Lindoya. 

Banyak informasi yang saya dapatkan dari novel ini. Diantaranya adalah perayaan Jonsok atau Midsummer pada tanggal 23 Juli yang merupakan hari terpanjang dalam setahun karena pada tanggal itu Norwegia yang memang berdekatan dengan kutub utara bermandikan cahaya matahari dari pagi sampai pagi lagi. Dan karena itu Norwegia disebut The Land of The Midnight Sun.  Selain itu saya baru tahu ternyata di Norwegia juga ada kegiatan menyirih (Snus), kalau istilah di Medan itu ‘menyuntil’ hanya saja yang digunakan disana adalah tembakau bukan sirih. :D
 

Tokoh favorit saya jelas ‘Si Mata Spidol’ Rasmus. Rasmus ini tipe pria yang sabar,pengertian, bijak dan tidak menilai orang hanya dari luarnya. Bahkan di bab pertama saja saya sudah dibuat jatuh hati dengan sosok Rasmus. Caranya berinteraksi dengan Sam di awal cerita sudah menarik perhatian saya.
 


“Kami tidak berbeda dengan semua Negara di dunia. Dimana pun pasti ada saja yang namanya remaja yang malas tinggal di rumah dan malas berada di sekolah, lalu jadi anak jalanan. Kalau mereka dibiarkan dan tidak diberi penyaluran positif, pasti berakhir jadi criminal. Makanya mereka diberi alternative kegiatan gratis sehingga tidak berada dijalanan lagi” (Hal. 121)

Kamu tahu, Sam, bekerja dengan anak-anak itu mengajariku untuk tidak langsung menilai orang atas apa yang telah mereka lakukan. Karena masing-masing punya alasan tersendiri, mengapa mereka bereaksi seperti itu. Trauma masa lalu membuat cara orang menyikapi sesuatu juga jadi berbeda."- (hal.184)

"Kalau aku mau menghakimi atau menghukum seseorang karena masa lalunya, aku tidak akan mengurus workshop itu dan juga tidak akan berada di sini. Aku ingin berada di sisimu dan membantumu. Bersama. Merakit masa depanmu. Masa depan kita." (Hal. 215)

"Aku mencintaimu sebelum aku tahu masa lalumu. Aku mencintaimu lebih dalam lagi setelah aku tahu masa lalumu. Kalaupun aku mengkhawatirkan dirimu, itu karena aku sayang padamu. Aku mencintai kamu, Sam. Cuma kamu!" – (hal. 274)

Nah, lho. Siapa yang gak melting dengan perlakuan Rasmus kayak gitu. Pantas saja benteng pertahanan yang dibangun dengan kokohnya oleh Sam akhirnya roboh. Saya aja meleleh bacanya. :D
 

Secara keseluruhan saya sangat menikmati novel ini. Mulai dari penulisan ceritanya sampai pendeskripsiapan tempatnya yang benar-benar rinci dan unik membuat saya tidak bisa berhenti membaca sampai akhir.  Dan melalui novel ini, penulis mengingatkan kita bahwa seperti apapun masalahnya dan sebesar apapun itu, kita tidak boleh menyerah begitu saja, kita harus berani menghadapinya dan menyelesaikannya. Bukan malah lari dan membiarkannya berlarut-larut. Karena seperti apapun masa lalu mu, masa depan mu masih suci.
 


“…Selalu ada kehidupan baru sesudah kapal karam” (Hal. 260)

Sumber:
Menampilkan 0 hingga 0 (dari 0 item)
Tidak Ada Resensi
Menampilkan 0 hingga 0 (dari 0 item)