[no_review_editorial]
Menampilkan 1 hingga 2 (dari 2 item)

Sutiono gunadi, adalah seorang kompasianer sekaligus traveller selain itu dia juga merupakan seorang yang mempunyai hobi kuliner dan menulis. Buku 'The Power Of Inspiration" adalah karya keduanya setelah buku "trailing the taste of gorontalo".

Buku the power of inspiration adalah buku yang menarik, penulis merangkum bahan dan cerita inspiratif dari berbagi sumber, sebagian dikemas dengan gaya bahasa yang tidak telalu baku dan mudah dimengerti siapa saja. Semua kisah petuah melebur jadi satu dalam buku ini. buku setebal 204 halaman ini penulisannya sangat "bersahabat" membawakan setiap kisahnya, sekalipun 1 atau 2 kisah tersebut pernah beredar di internet, sang penulis menyajikannya dengan format yang mudah dinikmati, pendek namun mengena dan artinya sampai.

Komposisi yang pas ini menurut saya bisa menjadi penyegaran dan menemukan inspirasi dalam kenyataan sehari hari, Buku ini selalu mengingatkan kita antara hubungan kita terhadap satu sama lain baik itu keluarga atau teman (hal 55), manusia dengan tuhan ( hal 115 ) , bahkan manusia dengan berbagai masalahnya (hal 129).


“Alhamdulillah Bu, hanya sayang saya ditinggal sendirian seperti sekarang, dulu sewaktu suamiku masih hidup masih ada yang diajak bicara,” kata Ibu Tua kepada tetangga yang merasa iri karena dianggap telah punya anak-anak sukses. Pada malam takbiran, ibu tua itu sedang menyiapkan beras untuk fitrah, ada datang keponakannya membawa HP. Lalu sang keponakan memberitahu Mas Dono (anak yang menjadi penjabat Jakarta) minta maaf lewat SMS. Disusul Mas Bayu, SMS dan kemudian telepon yang memberitahukan, “Saya minta maaf sebesar-besarnya, Bu, tepat Lebaran saya harus silaturahmi ke tempat Bos ....”

 

Ada lagi kisah tentang Ibu: Seorang anak yang menggendong ibunya yang renta dan membuangnya ke dalam hutan. Sepanjang jalan, Si Ibu mematahkan ranting pohon dan menebarkannya. Hingga akhirnya ia pun ditaruh oleh Si Anak. Si Anak sedih juga, karena mesti meninggalkan ibunya. Berbeda dengan Si Ibu. “Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini. Tadi Ibu sudah menandai sepajang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah.” Dan 98 kisah yang dituangkan Sutiono dengan bahasa sederhana. Tak lika-liku. Tentang orangtua yang tetap ingin anak-anaknya baik walau ia sesungguhnya tersakiti.

 

Di samping kisah-kisah dari luar negeri: China, Eropa, Amerika atau belahan dunia mana pun. Tentang tokoh yang kita mungkin sangat paham siapa itu Ibu Theresa, Elizabeth Taylor, Charlie Chaplin, Paganini, bahkan pemilik Kentucky Froed Chicken, Colonel Sander. “Pada usia 65 tahun ia sudah siap bunuh diri. Namun pada usia 88, Colonel Sander, penemu Kerajaan bisnis KFC telah menjadi biliuner.” Ya, setelah ia menapak jalan berliku: Pada usia 5 tahun, ayahnya meninggal dunia. Pada usia 16 tahun, ia keluar dari sekolah Pada usia 17 tahun, ia sudah kehilangan pekerjaan empat kali Pada usia 18 tahun, menikah Di usia 18 dan 22 tahun, ia menjadi kondektur kereta api dan gagal. Ia pun dicerai istrinya. Hingga kemudian di usia 65 tahun pensiun lalu mencoba resep menggoreng ayam dan dijualnya dari pintu ke pintu kepada tetangganya di Kentucky (Amerika Serikat). Ia seperti mengajarkan: Sikap. Tidak ada yang terlambat untuk memulai sesuatu.

 

Kisah yang beragam, termasuk dengan lambang-lambang binatang ikut menyemarakkan kisah-kisah yang dihimpun Sutiono ini, hemat saya tak mengajarkan “kecerdasan” tapi lebih kepada memberi “perenungan” akan kebenaran-kebenaran hakiki yang kerap kita lupakan. Padahal, itu bisa terjadi setiap saat dan ada di sekitar kita. Kita kerap “lupa” hanya karena terseret pada arus yang sering melenakan, arus modernitas dan hedonis. Jika, perlu menghujat Tuhan. Seperti kisah ini: Seorang tukang tahu, setiap hari sebelum berangkat berdagang dengan angkot langganan, ia selalu berdoa agar dagangannya laris sebelum ke pasar. Begitulah. Hingga ia berjalan meniti pematang, dan terpeleset. Jatuhlah ia ke sawah, dan tahunya pun hancur. Tak jadi berdagang. Di sini, ia menyalahkah Tuhan. Dan ia pulang. Dua jam kemudian, ia mendengar kabar, angkot langganan jatuh ke dalam jurang. Semua tewas. Ia satu-satunya calon penumpang yang selamat gara-gara tahu dagangannya jatuh. Sampai sore harinya, seorang peternak babi datang mencari Si Tukang Tahu untuk membeli tahu untuk makan babi. Ia hanya akan membeli tahu rusak. “Spontan bapak itu menangis dan bahagia karena tahunya yang rusak dibeli semua oleh peternak babi itu....” (halaman 173).

 

Menyimak, merenungi kisah-kisah dalam buku The Power of Inspiration ini, kita diajak untuk membaca tentang kita, lingkungan dan alam sekitar kita. Ada semua hikmah di balik dari apa yang bisa kita baca dari yang kita lihat-dengar-rasakan. Dan Penyusun, melihat emas atau mutiara yang bertebaran itu untuk dikisahkan ulang dan bisa kita simak secara sederhana. Dengan hati yang lebih lapang.

 



Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/thamrin-sonata/kompasianer-sutiono-menyusun-100-kisah-inspiratif_57f451ad917e615e068b4568
“Alhamdulillah Bu, hanya sayang saya ditinggal sendirian seperti sekarang, dulu sewaktu suamiku masih hidup masih ada yang diajak bicara,” kata Ibu Tua kepada tetangga yang merasa iri karena dianggap telah punya anak-anak sukses. Pada malam takbiran, ibu tua itu sedang menyiapkan beras untuk fitrah, ada datang keponakannya membawa HP. Lalu sang keponakan memberitahu Mas Dono (anak yang menjadi penjabat Jakarta) minta maaf lewat SMS. Disusul Mas Bayu, SMS dan kemudian telepon yang memberitahukan, “Saya minta maaf sebesar-besarnya, Bu, tepat Lebaran saya harus silaturahmi ke tempat Bos ....” Ada lagi kisah tentang Ibu: Seorang anak yang menggendong ibunya yang renta dan membuangnya ke dalam hutan. Sepanjang jalan, Si Ibu mematahkan ranting pohon dan menebarkannya. Hingga akhirnya ia pun ditaruh oleh Si Anak. Si Anak sedih juga, karena mesti meninggalkan ibunya. Berbeda dengan Si Ibu. “Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini. Tadi Ibu sudah menandai sepajang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah.” Dan 98 kisah yang dituangkan Sutiono dengan bahasa sederhana. Tak lika-liku. Tentang orangtua yang tetap ingin anak-anaknya baik walau ia sesungguhnya tersakiti. Di samping kisah-kisah dari luar negeri: China, Eropa, Amerika atau belahan dunia mana pun. Tentang tokoh yang kita mungkin sangat paham siapa itu Ibu Theresa, Elizabeth Taylor, Charlie Chaplin, Paganini, bahkan pemilik Kentucky Froed Chicken, Colonel Sander. “Pada usia 65 tahun ia sudah siap bunuh diri. Namun pada usia 88, Colonel Sander, penemu Kerajaan bisnis KFC telah menjadi biliuner.” Ya, setelah ia menapak jalan berliku: Pada usia 5 tahun, ayahnya meninggal dunia. Pada usia 16 tahun, ia keluar dari sekolah Pada usia 17 tahun, ia sudah kehilangan pekerjaan empat kali Pada usia 18 tahun, menikah Di usia 18 dan 22 tahun, ia menjadi kondektur kereta api dan gagal. Ia pun dicerai istrinya. Hingga kemudian di usia 65 tahun pensiun lalu mencoba resep menggoreng ayam dan dijualnya dari pintu ke pintu kepada tetangganya di Kentucky (Amerika Serikat). Ia seperti mengajarkan: Sikap. Tidak ada yang terlambat untuk memulai sesuatu. Kisah yang beragam, termasuk dengan lambang-lambang binatang ikut menyemarakkan kisah-kisah yang dihimpun Sutiono ini, hemat saya tak mengajarkan “kecerdasan” tapi lebih kepada memberi “perenungan” akan kebenaran-kebenaran hakiki yang kerap kita lupakan. Padahal, itu bisa terjadi setiap saat dan ada di sekitar kita. Kita kerap “lupa” hanya karena terseret pada arus yang sering melenakan, arus modernitas dan hedonis. Jika, perlu menghujat Tuhan. Seperti kisah ini: Seorang tukang tahu, setiap hari sebelum berangkat berdagang dengan angkot langganan, ia selalu berdoa agar dagangannya laris sebelum ke pasar. Begitulah. Hingga ia berjalan meniti pematang, dan terpeleset. Jatuhlah ia ke sawah, dan tahunya pun hancur. Tak jadi berdagang. Di sini, ia menyalahkah Tuhan. Dan ia pulang. Dua jam kemudian, ia mendengar kabar, angkot langganan jatuh ke dalam jurang. Semua tewas. Ia satu-satunya calon penumpang yang selamat gara-gara tahu dagangannya jatuh. Sampai sore harinya, seorang peternak babi datang mencari Si Tukang Tahu untuk membeli tahu untuk makan babi. Ia hanya akan membeli tahu rusak. “Spontan bapak itu menangis dan bahagia karena tahunya yang rusak dibeli semua oleh peternak babi itu....” (halaman 173). Menyimak, merenungi kisah-kisah dalam buku The Power of Inspiration ini, kita diajak untuk membaca tentang kita, lingkungan dan alam sekitar kita. Ada semua hikmah di balik dari apa yang bisa kita baca dari yang kita lihat-dengar-rasakan. Dan Penyusun, melihat emas atau mutiara yang bertebaran itu untuk dikisahkan ulang dan bisa kita simak secara sederhana. Dengan hati yang lebih lapang.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/thamrin-sonata/kompasianer-sutiono-menyusun-100-kisah-inspiratif_57f451ad917e615e068b4568


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/thamrin-sonata/kompasianer-sutiono-menyusun-100-kisah-inspiratif_57f451ad917e615e068b4568

Sumber:
Menampilkan 1 hingga 2 (dari 2 item)